• Gaya Hidup

Ilmuwan Teliti Hubungan Solar Flare dan Gempa, Benarkah Ada Kaitan?

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 22/02/2026 22:55 WIB
Ilmuwan Teliti Hubungan Solar Flare dan Gempa, Benarkah Ada Kaitan? Matahari memancarkan jilatan api matahari pada 22 Februari 2024, dalam gambar yang diambil oleh Solar Dynamics Observatory NASA via REUTERS.

JAKARTA - Semburan matahari atau solar flare selama ini dikenal memicu gangguan satelit, sistem komunikasi, hingga aurora spektakuler di langit kutub. Namun sebuah studi terbaru mengusulkan kemungkinan yang lebih kontroversial, yakni ledakan energi dari Matahari itu mungkin ikut “menggoyang” kerak Bumi dan berperan dalam memicu gempa.

Studi yang diterbitkan di jurnal International Journal of Plasma Environmental Science and Technology menyebut perubahan pada ionosfer, lapisan atmosfer bermuatan listrik sekitar 400 kilometer di atas Bumi, dapat mengubah distribusi gaya elektrostatik di dalam kerak. Dalam situasi patahan yang sudah berada di ambang kegagalan, perubahan kecil itu dinilai berpotensi menjadi dorongan tambahan yang memicu pelepasan energi gempa.

Peneliti membangun model yang memperlakukan Bumi sebagai sistem kelistrikan alami berskala planet. Retakan di zona patahan diketahui mengandung fluida superkritis, yakni air bersuhu dan bertekanan sangat tinggi yang kaya ion bermuatan, sehingga secara teoretis dapat berperilaku seperti kapasitor penyimpan energi listrik.

Dikutip dari Live Science, dalam simulasi tersebut, kerak Bumi dan ionosfer diposisikan sebagai dua ujung “baterai bocor” raksasa yang terhubung oleh medan listrik. Ketika solar flare menghantam atmosfer, partikel bermuatan dapat menggeser elektron di ionosfer ke ketinggian lebih rendah, membentuk lapisan bermuatan negatif.

Model menunjukkan pergeseran muatan ini meningkatkan gaya elektrostatik di dalam kerak dan menghasilkan perubahan tekanan. Besarnya perubahan itu disebut sebanding dengan pengaruh pasang surut atau gaya gravitasi, faktor yang memang diketahui dapat memengaruhi stabilitas patahan.

Dalam kerangka ini, Matahari bukanlah penyebab utama gempa. Ia diposisikan sebagai faktor eksternal yang mungkin mempercepat pelepasan energi pada patahan yang sudah kritis.

Sebagai ilustrasi, peneliti menyinggung gempa Semenanjung Noto 2024 di Jepang yang terjadi berdekatan dengan aktivitas solar flare kuat. Namun kedekatan waktu tersebut tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) selama ini menekankan bahwa gempa tidak menunjukkan pola konsisten mengikuti siklus matahari 11 tahunan. Selain itu, baik gempa maupun solar flare merupakan peristiwa yang relatif sering terjadi, sehingga tumpang tindih secara statistik bisa saja merupakan kebetulan.

Sejumlah ahli geofisika juga mengkritik pendekatan model yang digunakan. Mereka menilai penelitian belum sepenuhnya memperhitungkan kompleksitas struktur kerak Bumi, termasuk resistansi listrik berbagai lapisan batuan yang berpotensi meredam medan listrik sebelum mencapai zona patahan.

Karena itu, hipotesis hubungan antara cuaca antariksa dan gempa masih berada pada tahap eksploratif. Para peneliti sendiri mengakui bahwa dibutuhkan data observasional yang lebih luas dan model geofisika yang lebih rinci untuk menguji klaim tersebut secara meyakinkan.

Untuk saat ini, dugaan bahwa solar flare dapat memicu gempa sebaiknya dipandang sebagai kemungkinan ilmiah yang sedang diuji, bukan sebagai kesimpulan final. Dalam sains, satu prinsip dasar tetap berlaku: korelasi tidak selalu berarti kausalitas. (*)