• Oase

Amalan Utama pada Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadan

Vaza Diva | Minggu, 22/02/2026 18:15 WIB
Amalan Utama pada Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadan Ilustrasi - berdoa (foto:ydsf)

JAKARTA - Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan selalu menjadi masa paling dinantikan umat Islam. Pada periode inilah diyakini terdapat Lailatul Qadar, malam istimewa yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Karena itu, Nabi Muhammad SAW mencontohkan peningkatan ibadah secara signifikan pada hari-hari tersebut.

Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah RA disebutkan:

إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
“Apabila memasuki sepuluh malam terakhir (Ramadan), Nabi menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir merupakan puncak ibadah Ramadan. Umat Islam dianjurkan tidak melewatkan malam-malam itu dengan aktivitas sia-sia, melainkan memperbanyak amalan.

Amalan utama adalah qiyamul lail atau salat malam, baik tarawih maupun tahajud. Rasulullah SAW menjelaskan keutamaannya:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, banyak umat Islam memperpanjang salat malam pada periode ini sebagai bentuk kesungguhan ibadah.

Sepuluh malam terakhir juga menjadi waktu terbaik memperbanyak tilawah Al-Qur`an. Hal ini berkaitan dengan turunnya wahyu pertama pada malam Lailatul Qadar sebagaimana firman Allah:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.” (QS. Al-Qadr: 1)

Tilawah dipahami bukan hanya membaca, tetapi juga merenungkan maknanya sebagai pedoman hidup.

Pada malam-malam tersebut umat Islam dianjurkan memperbanyak doa. Aisyah RA pernah bertanya kepada Nabi tentang doa terbaik ketika Lailatul Qadar, dan beliau menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)

Doa ini menegaskan bahwa inti Lailatul Qadar adalah pengampunan dan rahmat Allah.

Selain ibadah ritual, amal sosial juga dianjurkan, seperti sedekah dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Ulama menjelaskan, kesempurnaan ibadah tidak hanya hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan manusia.

Dengan demikian, sepuluh malam terakhir Ramadan dipahami sebagai kesempatan terbesar dalam setahun untuk memperbaiki kualitas spiritual. Kesungguhan beribadah pada periode ini diharapkan menjadi titik awal perubahan diri setelah Ramadan berakhir.