• Gaya Hidup

PBB: Dunia Masuk Era `Kebangkrutan Air`, 4 Miliar Orang Terancam Kekeringan

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 21/02/2026 23:59 WIB
PBB: Dunia Masuk Era `Kebangkrutan Air`, 4 Miliar Orang Terancam Kekeringan Ilustrasi kekeringan ekstrem - kebangkrutan air (foto: Doknet)

JAKARTA - Dunia telah memasuki era “kebangkrutan air”, menurut laporan terbaru PBB. Curah hujan dan aliran sungai tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, sementara banyak negara mengandalkan cadangan air tanah yang memerlukan ratusan hingga ribuan tahun untuk pulih.

Dikutip dari Earth, secara global, tiga dari empat orang hidup di negara yang mengalami kekurangan air, pencemaran, atau kekeringan. Sekitar empat miliar orang bahkan mengalami kelangkaan air setidaknya satu bulan setiap tahun.

Selain itu, sekitar 70 persen akuifer utama dunia berada dalam kondisi menurun. Penurunan ini mengkhawatirkan karena sebagian cadangan air tanah membutuhkan ratusan hingga ribuan tahun untuk pulih.

Penulis laporan, Kaveh Madani, mengibaratkan air permukaan seperti sungai dan danau sebagai “rekening giro” yang kini hampir kosong. Sementara itu, air tanah dan gletser sebagai “tabungan” warisan terus dikuras untuk menutup kebutuhan rutin.

Namun, mengandalkan cadangan jangka panjang untuk membiayai konsumsi harian hanya menunda krisis yang lebih besar. Jika tren ini berlanjut, sejumlah kerusakan diperkirakan akan sulit bahkan mustahil dibalikkan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pertanian dan kota ke wilayah kering menjadi salah satu pendorong utama tekanan air. Pada saat yang sama, pemanasan global memperparah kekeringan, meningkatkan penguapan, dan membuat pola hujan semakin tidak menentu.

Akibatnya, dampak krisis sudah terlihat di berbagai belahan dunia. Di Turki, pemompaan air tanah dikaitkan dengan munculnya ratusan sinkhole, sementara di Beijing badai debu akibat penggurunan telah menelan korban jiwa.

Lebih jauh, tekanan air juga berdampak pada stabilitas sosial dan politik. Kekurangan air disebut dapat memicu migrasi, konflik, hingga kerusuhan ketika ekonomi lokal yang bergantung pada air terguncang.

Iran menjadi contoh bagaimana berbagai tekanan dapat menumpuk dalam waktu bersamaan. Musim gugur terkering dalam 50 tahun, pembangunan bendungan, dan eksploitasi sumur untuk pertanian hampir mengeringkan Danau Urmia sekaligus menguras air tanah negara itu.

Di sisi lain, krisis serupa juga terjadi di Amerika Serikat bagian barat yang bergantung pada Sungai Colorado. Aliran sungai tersebut turun sekitar 20 persen dalam dua dekade terakhir akibat penurunan curah hujan dan peningkatan penguapan.

Dua waduk utama di sistem itu kini hanya terisi sekitar 30 persen. Para peneliti memperingatkan risiko mencapai kondisi “dead pool”, ketika permukaan air terlalu rendah untuk mengalir melalui bendungan.

Meski demikian, solusi teknis tidak selalu menjawab akar masalah. Peningkatan efisiensi irigasi, misalnya, dapat mengurangi limpasan ke sungai sehingga tidak otomatis menurunkan total konsumsi air.

Padahal, pertanian menyerap sebagian besar air tawar dunia sehingga pengurangan di sektor ini menjadi kunci. Namun langkah tersebut rumit karena menyangkut mata pencaharian lebih dari satu miliar orang dan ketahanan pangan global.

Sementara itu, pencemaran mempersempit pilihan bahkan di negara yang relatif kaya air. Limbah industri, pupuk, dan kotoran ternak membuat sebagian sumber air tak lagi layak digunakan.

Hilangnya lahan basah seluas kira-kira wilayah Uni Eropa juga memperburuk situasi. Kerugian jasa ekosistem akibat kehilangan ini diperkirakan mencapai triliunan dolar, termasuk fungsi pengendalian banjir dan penyimpanan karbon.

Di Bangladesh, kenaikan muka laut dan intrusi air asin mencemari banyak sumur dengan arsenik. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan air tidak selalu berarti keamanan air yang layak konsumsi.

Karena itu, laporan yang dipublikasikan di jurnal Water Resources Management tersebut menekankan pentingnya pencatatan dan pengukuran yang akurat. Tanpa neraca air yang jelas, pemerintah dinilai hanya akan berpindah dari satu krisis ke krisis lain tanpa strategi jangka panjang.

Kebangkrutan air bukan berarti dunia kehabisan air sepenuhnya, melainkan hidup melampaui batas siklus hidrologi alami. PBB memperingatkan bahwa tanpa perubahan kebijakan dan pola konsumsi, krisis ini akan semakin dalam dan sulit dipulihkan. (*)