• Oase

Ngabuburit, Budaya Menunggu Berbuka di Indonesia

M. Habib Saifullah | Sabtu, 21/02/2026 14:35 WIB
Ngabuburit, Budaya Menunggu Berbuka di Indonesia Ilustrasi - Ngabuburit sembari mencari takjil (Foto: Antara)

JAKARTA - Ramadan di Indonesia selalu diwarnai beragam kebiasaan masyarakat. Salah satu istilah yang paling dikenal selama bulan puasa adalah “ngabuburit”.

Istilah tersebut sangat akrab digunakan untuk menggambarkan aktivitas sore hari menjelang berbuka. Meski populer, tidak semua orang mengetahui asal kata ngabuburit.

Dihimpun dari berbagai sumber, secara bahasa, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yakni frasa ngalantung ngadagoan burit yang berarti menunggu waktu senja sambil bersantai. Kata burit sendiri merujuk pada waktu sore atau menjelang malam.

Penggunaan istilah ini kemudian meluas dan tidak lagi terbatas pada masyarakat Sunda. Kini kata ngabuburit dipakai hampir di seluruh wilayah Indonesia dan menjadi bagian dari budaya Ramadan.

Pada awalnya, ngabuburit diisi kegiatan sederhana seperti duduk di rumah, berbincang dengan keluarga, atau membaca Al-Qur’an sambil menunggu azan magrib.

Seiring waktu, aktivitas tersebut berkembang menjadi kegiatan sosial yang lebih beragam. Banyak orang menghabiskan waktu dengan berjalan santai, mengunjungi pasar Ramadan untuk membeli takjil, hingga mengikuti pengajian di masjid.

Di beberapa daerah, ngabuburit memiliki bentuk yang berbeda sesuai tradisi setempat. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, misalnya, anak-anak kerap mengisinya dengan permainan tradisional.

Sementara di wilayah pesisir seperti Pantai Losari di Makassar, masyarakat biasa menunggu waktu berbuka dengan bersantai di tepi pantai menikmati matahari terbenam.

Di kota-kota besar, ngabuburit bahkan sering dikemas menjadi kegiatan komunitas seperti festival kuliner Ramadan atau pertunjukan seni bernuansa Islami.

Walaupun bentuknya semakin beragam, tujuan ngabuburit tetap sama, yaitu mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.