Ilustrasi seseorang sedang membaca Al-Quran saat bulan Ramadan (Foto: Unsplash/Majid Pogung Dalangan)
JAKARTA - Ramadan sering menjadi momentum umat Islam kembali memperbanyak membaca Al-Qur’an. Di berbagai masjid maupun rumah, kegiatan tadarus dilakukan setelah salat tarawih hingga menjelang sahur.
Membaca Al-Qur’an tidak hanya dianjurkan memperbanyak jumlah bacaan, tetapi juga memperhatikan cara pelafalannya. Ilmu tajwid berfungsi menjaga bacaan tetap sesuai kaidah sebagaimana diturunkan.
Al-Qur’an sendiri memerintahkan membaca dengan tartil, yaitu perlahan dan jelas.
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS Al-Muzzammil: 4)
Berikut beberapa hukum tajwid dasar yang penting diingat kembali saat tadarus.
. Hukum Nun Mati (نْ) dan Tanwin (ــً / ــٌ / ــٍ)
Hukum ini berlaku ketika nun sukun atau tanwin bertemu huruf tertentu.
a. Idzhar (إظهار)
Membaca nun mati dan tanwin dengan jelas tanpa dengung.
Huruf-hurufnya: أ، ه، ع، ح، غ، خ
Contoh: مِنْ هَادٍ
b. Idgham (إدغام)
Meleburkan nun mati atau tanwin ke huruf berikutnya.
Terbagi menjadi:
Idgham Bighunnah (dengung): ي، ن، م، و
Idgham Bilaghunnah (tanpa dengung): ل، ر
Contoh: مِنْ وَلِيٍّ
c. Iqlab (إقلاب)
Mengubah bunyi nun mati/tanwin menjadi mim jika bertemu huruf ب, disertai dengung.
Contoh: سَمِيعٌ بَصِيرٌ
d. Ikhfa (إخفاء)
Membaca samar antara jelas dan dengung.
Hurufnya: 15 huruf selain huruf idzhar, idgham, dan iqlab.
Contoh: مِنْ ثَمَرَاتٍ
2. Hukum Mim Mati (مْ)
Mengatur pengucapan mim sukun dalam kondisi tertentu.
a. Ikhfa Syafawi (إخفاء شفوي)
Mim mati bertemu ب, dibaca samar dengan dengung.
Contoh: تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ
b. Idgham Mimi (إدغام ميمي)
Mim mati bertemu م, dibaca melebur dengan dengung.
Contoh: كَمْ مِنْ فِئَةٍ
c. Idzhar Syafawi (إظهار شفوي)
Mim mati bertemu huruf selain م dan ب.
Contoh: أَمْ لَمْ يَكُنْ
3. Hukum Mad (مَدّ)
Mad berarti memanjangkan bacaan huruf tertentu.
a. Mad Thabi’i (مد طبيعي)
Mad asli sepanjang 2 harakat, tidak dipengaruhi tanda lain.
Contoh: قَالَ
b. Mad Wajib Muttasil
Mad bertemu hamzah dalam satu kata, dipanjangkan 4–5 harakat.
Contoh: سَوَاءٌ
c. Mad Jaiz Munfasil
Mad bertemu hamzah di kata berbeda, 4–5 harakat.
Contoh: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
d. Mad Lazim
Mad yang bertemu huruf bertasydid atau sukun asli, panjang 6 harakat.
Contoh: الضَّالِّينَ
e. Mad Aridh Lissukkun
Mad karena berhenti (waqaf), 2–6 harakat.
Contoh: الْعَالَمِينَۚ
4. Ghunnah (غُنَّة)
Dengung pada huruf ن dan م bertasydid atau ketika terjadi idgham bighunnah.
Panjang dengung 2 harakat.
Contoh: إِنَّا – ثُمَّ
5. Qalqalah (قلقلة)
Menggetarkan bunyi huruf ketika sukun.
Hurufnya: ق، ط، ب، ج، د (ingat: قُطْبُ جَدٍّ)
Contoh: يَقْطَعُ
Terbagi:
Qalqalah Sughra: sukun berada di tengah kata.
Qalqalah Kubra: sukun karena waqaf di akhir kata.
6. Lam Ta’rif (ال)
Berhubungan dengan cara membaca alif-lam pada kata benda.
a. Lam Qamariyah
Dibaca jelas.
Hurufnya 14, termasuk: ق، ك، م، و
Contoh: الْقَمَرُ
b. Lam Syamsiyah
Dibaca lebur (idgham) ke huruf setelahnya.
Hurufnya 14, seperti: ت، ث، ر، س
Contoh: الشَّمْسُ
7. Hamzah Wasal (همزة وصل)
Hamzah yang dibaca hanya ketika berada di awal kalimat.
Contoh: اقْرَأْ