Ilustrasi pedagang daging dalam rangka menyambut tradisi Meugang di Aceh (Foto: Si Gam via Wikipedia)
JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Aceh menjalankan tradisi yang dikenal dengan sebutan meugang. Kegiatan ini dilakukan beberapa hari sebelum puasa dimulai dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.
Meugang ditandai dengan penyembelihan hewan ternak, terutama sapi atau kambing. Daging yang diperoleh kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga. Aktivitas tersebut dilakukan hampir di seluruh wilayah Aceh, baik di kota maupun desa.
Catatan sejarah menyebut tradisi meugang telah ada sejak masa Kesultanan Aceh. Pada masa itu, penguasa kerajaan membagikan daging kepada rakyat menjelang hari-hari besar Islam seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi masyarakat.
Selain sebagai persiapan menyambut Ramadan, meugang juga berkaitan dengan hubungan sosial. Keluarga yang memiliki rezeki lebih biasanya membagikan daging kepada kerabat, tetangga, serta masyarakat yang membutuhkan.
Tradisi ini membuat aktivitas pasar daging meningkat menjelang Ramadan. Penjual dan pembeli memadati pasar tradisional untuk memperoleh bahan masakan. Kegiatan tersebut berlangsung hampir serentak di berbagai daerah di Aceh.
Dalam pelaksanaannya, daging meugang diolah menjadi berbagai masakan khas. Hidangan kemudian dimakan bersama anggota keluarga di rumah. Makan bersama menjadi bagian penting dari tradisi karena berkaitan dengan kebersamaan menjelang bulan puasa.
Selain dimaknai sebagai kegiatan kuliner, meugang juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial. Masyarakat saling berkunjung dan berbagi makanan. Tradisi ini memperkuat interaksi antarwarga sebelum memasuki Ramadan.