• Gaya Hidup

Asal-usul Hewan Barongsai dalam Tradisi Imlek

M. Habib Saifullah | Selasa, 17/02/2026 11:30 WIB
Asal-usul Hewan Barongsai dalam Tradisi Imlek Ilustrasi - Barongsai dalam perayaan Imlek (Foto: Unsplash/Visual Karsa)

JAKARTA - Pertunjukan barongsai identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Kostum berwarna cerah dengan mata besar dan gerakan lincah kerap disebut sebagai naga oleh sebagian masyarakat. Padahal dalam tradisi Tionghoa, barongsai merepresentasikan singa.

Istilah barongsai berasal dari dialek Hokkian. Kata “barong” merujuk pada singa, sedangkan “sai” berarti tarian. Dengan demikian, barongsai secara harfiah berarti tarian singa.

Singa bukan hewan asli Tiongkok. Dalam catatan sejarah, masyarakat Tiongkok kuno tidak mengenal singa secara langsung. Hewan tersebut dikenal melalui jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tengah dan India sekitar awal masehi. Para pedagang dan utusan kerajaan memperkenalkan singa sebagai hewan eksotis kepada istana kekaisaran.

Pada masa Dinasti Han, singa mulai dikenal sebagai hewan simbolis. Beberapa catatan menyebut hewan ini dijadikan hadiah diplomatik dari wilayah barat kepada kaisar. Sejak saat itu, citra singa dipandang sebagai lambang kekuatan, kewibawaan, dan penjaga.

Karena tidak pernah melihat bentuk aslinya secara luas, penggambaran singa dalam seni Tiongkok berkembang secara imajinatif. Ciri khas seperti mata besar, tanduk kecil, serta bulu tebal merupakan interpretasi artistik, bukan representasi biologis hewan singa.

Dalam kebudayaan tradisional, figur singa kemudian ditempatkan sebagai pelindung. Patung singa batu banyak ditemukan di depan kuil, istana, dan bangunan penting sebagai simbol penjagaan terhadap pengaruh buruk.

Tarian barongsai berkembang dari fungsi simbolis tersebut. Pertunjukan dilakukan dengan gerakan menyerupai hewan penjaga yang aktif. Iringan drum, gong, dan simbal menegaskan unsur ritual dalam tradisi awalnya.

Seiring waktu, tarian singa menjadi bagian dari perayaan masyarakat, khususnya Tahun Baru Imlek. Kehadirannya dimaksudkan sebagai penanda awal tahun serta simbol penolak hal buruk menurut kepercayaan tradisional.

Selain itu, Barongsai berkembang menjadi dua gaya utama, yaitu gaya Utara dan gaya Selatan. Gaya Utara lebih mengutamakan akrobatik dan gerakan anggun, sering digunakan dalam upacara kerajaan.

Sementara itu, gaya Selatan lebih ekspresif dengan fokus pada gerakan kepala dan tubuh yang meniru gerakan singa. Gaya Selatan inilah yang lebih sering terlihat dalam perayaan Imlek di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.