• Gaya Hidup

Ilmuwan Temukan Gen Ibu yang Berkaitan dengan Risiko Keguguran

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 15/02/2026 21:25 WIB
Ilmuwan Temukan Gen Ibu yang Berkaitan dengan Risiko Keguguran Ilmuwan mengidentifikasi varian genetik pada ibu yang berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko keguguran akibat aneuploidi (Foto: Live Science)

JAKARTA - Untuk pertama kalinya, ilmuwan mengidentifikasi varian genetik pada ibu yang berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko keguguran akibat aneuploidi, yakni kondisi ketika sel memiliki jumlah kromosom abnormal. Temuan penting ini dipublikasikan pada Januari di jurnal ilmiah bergengsi Nature.

Aneuploidi diketahui menjadi penyebab sekitar separuh keguguran pada trimester pertama dan jauh lebih sering terjadi pada sel telur dibandingkan sperma. Risiko ini meningkat seiring bertambahnya usia perempuan, terutama memasuki pertengahan hingga akhir 30-an.

Selain menyebabkan keguguran, aneuploidi pada sel telur juga berkontribusi terhadap infertilitas serta gangguan genetik pada anak, yang dalam sejumlah kasus dapat berujung pada disabilitas berat atau kematian dini. Namun demikian, faktor genetik individual yang membuat sebagian perempuan lebih rentan menghasilkan sel telur aneuploid masih belum banyak dipahami.

“Kami melihat ini sebagai titik buta besar dalam bidang kami,” kata Rajiv McCoy, profesor biologi dari Johns Hopkins University, yang memimpin penelitian tersebut. Ia dan timnya berupaya menutup celah pengetahuan itu melalui analisis genomik skala besar.

Peneliti menggunakan data uji genetik klinis dari lebih 139.000 embrio hasil fertilisasi in vitro (IVF) yang berasal dari 22.850 ibu berusia 20 hingga hampir 56 tahun. Rata-rata usia partisipan sekitar 36 tahun, rentang usia ketika risiko embrio aneuploid meningkat tajam.

Melalui pendekatan genome-wide association study (GWAS), tim menelusuri hubungan statistik antara variasi gen dalam genom ibu dan kejadian aneuploidi pada embrio. Mereka juga menganalisis transkriptom atau RNA sel untuk melihat gen-gen mana yang aktif selama proses pembentukan sel telur.

Hasil analisis menunjukkan asosiasi terkuat pada varian tertentu dari gen SMC1B, yang berperan penting dalam menjaga dua bagian kromosom tetap menyatu saat pembelahan sel. Selain itu, gen C14orf39 juga ditemukan memiliki hubungan signifikan karena terlibat dalam pengaturan interaksi antar kromosom selama pembelahan.

Lebih jauh, studi ini memperjelas kaitan antara aneuploidi dan proses biologis yang disebut crossover recombination, yakni pertukaran segmen DNA antar kromosom saat pembentukan sel telur atau sperma. Tim McCoy menemukan bahwa embrio aneuploid cenderung memiliki jumlah peristiwa crossover lebih rendah, memperkuat dugaan bahwa kesalahan dalam proses ini meningkatkan risiko kelainan kromosom.

Yang baru dari penelitian ini adalah temuan bahwa varian gen yang meningkatkan risiko aneuploidi juga merupakan bagian dari mesin molekuler yang mengatur rekombinasi tersebut. “Mesin yang memengaruhi rekombinasi adalah mesin yang sama yang memengaruhi risiko terjadinya aneuploidi,” ujar McCoy.

Temuan ini dinilai membantu menjawab pertanyaan mendasar tentang mengapa sebagian perempuan memiliki tingkat aneuploidi lebih tinggi dan fertilitas lebih rendah dibandingkan lainnya. Shai Carmi, profesor genetika komputasional dan statistik dari Hebrew University of Jerusalem yang tidak terlibat dalam studi, menyebut riset ini memperjelas keterkaitan berbagai proses biologis yang sebelumnya dipelajari secara terpisah.

Secara global, keguguran merupakan peristiwa yang sangat umum terjadi, bahkan pada pasangan tanpa riwayat infertilitas. Sekitar 10 hingga 20 persen kehamilan yang terdeteksi secara klinis berakhir dengan keguguran, sementara para peneliti memperkirakan hampir separuh konsepsi hilang sebelum kelahiran, banyak di antaranya pada tahap sangat awal perkembangan.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa setiap varian gen hanya menyumbang sebagian kecil dari total risiko individu sehingga temuan ini belum dapat langsung diterapkan dalam praktik klinis. Namun, penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan model prediksi risiko keguguran yang lebih akurat di masa depan, sekaligus menjadi dasar bagi riset terapi dan diagnostik baru.

Pada akhirnya, studi ini tidak hanya relevan bagi pengembangan teknologi reproduksi berbantu seperti IVF, tetapi juga bagi pemahaman mendasar tentang bagaimana kehidupan manusia bermula dan berkembang. Dengan mengungkap fondasi genetik di balik keguguran, para ilmuwan selangkah lebih dekat memahami mekanisme biologis yang membentuk keberlangsungan spesies manusia.