Ilustrasi - merayakan Valentine Day (Foto: Shutterstock)
JAKARTA - Setiap 14 Februari, etalase toko di berbagai negara dipenuhi cokelat berbentuk hati, kotak merah berhias pita, serta simbol cinta lainnya. Tradisi ini begitu melekat hingga Hari Valentine terasa kurang lengkap tanpa cokelat, namun keterkaitannya ternyata bukan sekadar kebiasaan musiman.
Secara historis, perayaan Valentine berakar dari festival Romawi kuno Lupercalia yang dirayakan pertengahan Februari sebagai simbol kesuburan. Seiring waktu, peringatan tersebut dikaitkan dengan sosok martir Kristen, Saint Valentine, yang dalam legenda dihukum mati karena menikahkan pasangan secara diam-diam.
Dikutip dari berbagai sumber, memasuki abad pertengahan, gagasan cinta romantis semakin populer melalui karya sastra tokoh seperti Geoffrey Chaucer dan William Shakespeare. Tradisi bertukar pesan dan hadiah kasih pun berkembang, meski saat itu belum ada kaitan khusus dengan cokelat.
Jejak cokelat sendiri jauh lebih tua dan bermula dari peradaban Maya dan Aztec di Amerika Tengah. Biji kakao kala itu dianggap suci, diolah menjadi minuman pahit bernilai tinggi, bahkan digunakan sebagai alat tukar dan persembahan ritual.
Ketika kakao dibawa ke Eropa pada abad ke-16, cokelat berubah menjadi komoditas mewah yang hanya dinikmati kalangan bangsawan. Minuman cokelat panas menjadi simbol status sosial tinggi di istana Prancis dan Inggris, sehingga memperkuat citra eksklusif dan glamor pada produk tersebut.
Transformasi besar terjadi pada abad ke-19 ketika industrialisasi membuat cokelat lebih terjangkau. Pada 1861, pengusaha Inggris Richard Cadbury memperkenalkan kotak cokelat berbentuk hati yang dihiasi gambar romantis untuk dipasarkan menjelang Valentine.
Inovasi itu bukan sekadar kemasan baru, melainkan strategi pemasaran yang membingkai cokelat sebagai medium ekspresi cinta. Kotak berhias Cupid dan bunga bahkan kerap disimpan sebagai kenangan, sehingga memperkuat nilai emosional produk.
Seiring produksi massal berkembang, tradisi memberi cokelat menyebar ke Amerika Serikat dan berbagai negara lain. Cokelat pun menjadi hadiah yang dianggap elegan, terjangkau, dan mudah diterima lintas budaya.
Di Jepang, tradisi berkembang unik ketika perempuan memberikan cokelat kepada pria pada 14 Februari, baik sebagai tanda cinta maupun kewajiban sosial. Kebiasaan ini kemudian diikuti dengan perayaan White Day sebulan setelahnya, saat hadiah dibalas.
Selain faktor sejarah dan komersial, sains turut menjelaskan daya tarik cokelat pada Hari Kasih Sayang. Cokelat mengandung senyawa seperti phenylethylamine (PEA) yang merangsang pelepasan dopamin dan norepinefrin, dua hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan semangat.
Kandungan theobromine memberi efek stimulan ringan, sementara triptofan membantu produksi serotonin yang berperan dalam menjaga suasana hati tetap positif. Meski kadarnya tidak besar, kombinasi zat tersebut cukup untuk menciptakan sensasi nyaman yang sering diasosiasikan dengan perasaan jatuh cinta.
Dari sisi psikologi, pemberian cokelat juga memicu pelepasan dopamin pada penerima hadiah. Mekanisme ini memperkuat asosiasi antara cokelat dan kasih sayang melalui proses yang dikenal sebagai classical conditioning.
Karena itu, cokelat menjadi simbol yang relatif aman dan universal untuk menyampaikan perasaan tanpa perlu kata-kata berlebihan. Hadiah ini dapat dinikmati bersama, memperkuat ikatan sosial, sekaligus menghadirkan pengalaman emosional yang menyenangkan.
Dengan demikian, Valentine identik dengan cokelat bukan hanya hasil strategi pemasaran, melainkan akumulasi sejarah panjang, simbolisme budaya, serta respons biologis manusia. Tradisi ini bertahan lintas zaman karena menyentuh dua sisi sekaligus: logika pasar dan kimia rasa cinta di otak manusia.