• Kesra

Valentine di Manado, Ini Sejarah Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 14/02/2026 15:15 WIB
Valentine di Manado, Ini Sejarah Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 Peristiwa Merah Putih di Manado - Peristiwa Sejarah 14 Februari di Indonesia (Foto: Manadopost)

JAKARTA - Di banyak tempat, 14 Februari identik dengan Hari Valentine. Namun di Manado, tanggal ini juga dikenang sebagai Peristiwa Merah Putih 1946, sebuah momentum heroik dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Peristiwa tersebut terjadi ketika pasukan Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) berupaya kembali menguasai wilayah Indonesia setelah Jepang menyerah. Situasi politik dan militer di Sulawesi Utara saat itu berada dalam ketegangan tinggi menyusul kabar Proklamasi 17 Agustus 1945 yang telah lebih dulu membakar semangat perlawanan.

Dikutip dari berbagai sumber, sejak berita kemerdekaan tiba di Minahasa, pemuda dan sejumlah anggota KNIL yang bersimpati kepada Republik mulai menyusun perlawanan. Meski beberapa upaya awal gagal karena terdeteksi aparat Belanda, konsolidasi gerakan terus dilakukan secara rahasia.

Puncaknya terjadi pada 14 Februari 1946 ketika pasukan pro-Republik melancarkan serangan terkoordinasi ke markas militer Belanda di kawasan Teling, Manado. Serangan itu berhasil merebut gudang senjata serta membebaskan anggota KNIL pro-Republik yang sebelumnya ditahan.

Dalam operasi tersebut, Kapten Bloom selaku komandan garnisun NICA di Manado dan Letnan Verwajen sebagai pimpinan tangsi militer berhasil ditangkap. Keberhasilan ini segera mengubah peta kekuasaan di wilayah tersebut.

Selain itu, perlawanan meluas hingga ke Tomohon ketika pasukan di bawah pimpinan Sersan Frans Bisman menangkap pejabat tinggi NICA. Dengan demikian, dalam waktu singkat hampir seluruh wilayah Sulawesi Utara berada di bawah kendali pejuang pro-Republik.

Momentum paling simbolik terjadi ketika F. Wangko Sumanti merobek bagian biru bendera Belanda, menyisakan warna merah dan putih. Bendera Merah Putih kemudian dikibarkan di atas markas militer sebagai tanda beralihnya kekuasaan.

Karena itu, Peristiwa Merah Putih tidak hanya bermakna kemenangan taktis, tetapi juga pernyataan politik bahwa Republik Indonesia mendapat dukungan luas di luar Jawa dan Sumatera. Narasi Belanda yang menyebut Proklamasi hanya berlaku di wilayah tertentu pun terpatahkan.

Berita tentang peristiwa ini menyebar cepat melalui radio dan telegraf, bahkan dilaporkan oleh BBC dan Radio Australia. Sorotan internasional tersebut memperkuat posisi diplomatik Indonesia di tengah upaya Belanda mendapatkan kembali legitimasi kolonialnya.

Dengan demikian, 14 Februari di Manado bukan sekadar peringatan Hari Kasih Sayang terhadap pasangan. Tanggal ini juga menjadi simbol bahwa cinta tanah air pernah diperjuangkan melalui keberanian, solidaritas, dan pengorbanan rakyat Sulawesi Utara dalam mempertahankan kemerdekaan. (*)