Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Stephane Dujarric (Foto: Anadolu)
JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kesiapannya membantu lebih banyak warga keluar masuk Jalur Gaza apabila pembatasan yang diberlakukan dapat dilonggarkan.
Hal tersebut disampaikan juru bicara PBB Stephane Dujarric pada Rabu (11/2).
"Dan jika Israel mengizinkan lebih banyak warga untuk masuk atau keluar (Gaza), PBB siap untuk memfasilitasinya," kata Dujarric kepada wartawan.
Ia menegaskan organisasi internasional itu akan mengupayakan penambahan jumlah warga yang bisa berpindah setiap hari, terutama bagi mereka yang membutuhkan penanganan kesehatan.
"Sekali lagi, pembatasan dan prosedur diberlakukan oleh Israel, oleh Mesir. Kami ingin melihat lebih banyak orang masuk dan keluar tanpa hambatan, seperti kita semua diperbolehkan untuk masuk dan keluar dari tempat-tempat dengan bebas. Dan lebih banyak orang diizinkan untuk mendapat bantuan medis di luar Gaza yang sangat mereka butuhkan," katanya.
Penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir–Gaza mulai beroperasi kembali sejak 2 Februari. Berdasarkan pengaturan yang berlaku, setiap hari maksimal 150 warga Gaza diperbolehkan keluar wilayah tersebut, sedangkan 50 orang dapat masuk dari Mesir setelah melewati prosedur keamanan.
Pengoperasian perlintasan dilakukan oleh Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM) bersama otoritas Mesir dan melalui koordinasi keamanan dengan Israel.
Lebih jauh, Mesir mengajukan daftar 50 warga yang hendak masuk untuk memperoleh persetujuan Israel, sementara EUBAM menyampaikan daftar 150 orang yang keluar berikut tujuan perjalanan mereka.
Sebelum konflik bersenjata di Gaza, Rafah merupakan satu-satunya pintu perbatasan Palestina yang tidak berada di bawah kendali langsung Israel. Jalur ini memiliki peran krusial untuk distribusi bantuan kemanusiaan, evakuasi korban luka, dan pengiriman kebutuhan penting dari luar wilayah.