Ilustrasi sahur di bulan Ramadan (Foto:99.co)
JAKARTA - Jumat 13 Februari 2026 umat Islam memasuki Jumat terakhir bulan Syaban 1447 Hijriah, bertepatan dengan 25 Syaban 1447 H. Momen ini menjadi titik penting dalam kalender hijriah karena menandai jelang fase akhir Syaban sebelum datangnya bulan suci Ramadan, bulan yang dinanti sebagai waktu peningkatan ibadah dan penguatan spiritual.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag), bulan Syaban 1447 H diproyeksikan berakhir pada 17–18 Februari 2026. Dengan demikian, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026, tergantung pada metode penetapan yang digunakan.
Terdapat perbedaan perhitungan antara Kemenag dan Muhammadiyah terkait durasi bulan Syaban tahun ini:
Versi Kemenag: Syaban berlangsung selama 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 (menunggu hasil sidang isbat).
Versi Muhammadiyah (Kalender Hijriah Global Tunggal/KHGT): Syaban berlangsung 29 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Perbedaan ini merupakan hal yang lazim dalam penentuan awal bulan hijriah di Indonesia, karena adanya variasi metode rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi).
Dalam berbagai riwayat, bulan Syaban disebut sebagai bulan yang sangat dicintai Rasulullah Muhammad SAW. Beliau diketahui memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah, pada bulan ini.
Menjelang akhir Syaban, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadan. Tradisi spiritual ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari proses penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa.
Dikutip dari Parstoday, Imam Ridha menekankan pentingnya tidak menyia-nyiakan hari-hari terakhir bulan Syaban, menjelang bulan suci Ramadan. Ia menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa, istigfar, membaca Al-Qur’an, serta memperbarui taubat.
Salah satu doa yang dianjurkan dibaca pada akhir Syaban adalah:
“Allaahumma in lam takun qad ghafarta lanaa fii maa madhaa min Sya‘baana faghfirlanaa fiimaa baqiya minhu.”
“Ya Allah, jika Engkau belum mengampuni kami pada hari-hari yang telah berlalu dari bulan Syaban, maka ampunilah kami pada hari-hari yang tersisa darinya.”
Dalam riwayat yang dinukil Imam Ridha dari Rasulullah SAW disebutkan bahwa pada akhir bulan Syaban, Allah membebaskan banyak hamba dari api neraka. Karena itu, momen ini dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri sebelum Ramadan tiba.
Syaban kerap dimaknai sebagai bulan transisi spiritual. Ulama klasik Abu Bakr Al-Balkhi menggambarkan fase ini dengan perumpamaan pertanian:
“Rajab adalah bulan menanam, Syaban adalah bulan menyirami, dan Ramadan adalah bulan memanen.”
Makna perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa kualitas ibadah di Ramadan sangat ditentukan oleh persiapan pada bulan-bulan sebelumnya. Tanpa pembiasaan ibadah dan penguatan niat sejak Rajab dan Syaban, Ramadan bisa berlalu tanpa capaian spiritual yang maksimal.
Karena itu, menjelang Jumat terakhir Syaban, umat Islam dianjurkan untuk memperkuat ibadan spritual dan sosial, mulai dari memperbanyak istigfar dan atau bertaubat, meningkatkan bacaan Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, membayar utang puasa (qadah) Ramadan (bagi yang belum melaksanakannya), hingga memperkuat niat dan komitmen ibadah Ramadan.
Jumat terakhir Syaban juga menjadi momentum untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Bulan Syaban disebut dalam sejumlah riwayat sebagai waktu turunnya ayat tersebut, sehingga memperbanyak shalawat menjadi amalan yang dianjurkan.
Secara spiritual, Jumat terakhir Syaban bukan sekadar penanda pergantian bulan dalam kalender hijriah, tetapi momentum muhasabah atau introspeksi diri. Dengan Ramadan yang tinggal menghitung hari, umat Islam diajak untuk menata hati, membersihkan niat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Jika Rajab adalah fase membangun fondasi dan Syaban adalah fase penguatan, maka Ramadan adalah puncak perjalanan spiritual tahunan umat Islam. Jumat terakhir Syaban 1447 H menjadi gerbang terakhir sebelum memasuki bulan suci tersebut.
Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat, momen ini mengingatkan bahwa persiapan spiritual memerlukan kesadaran dan kesungguhan. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan pembaruan diri yang datang hanya sekali dalam setahun.