Ilustrasi - bulan Ramadan 2022 (Foto: HO/IST)
JAKARTA - Menjelang datangnya bulan puasa, masyarakat kerap menemukan dua penulisan berbeda untuk menyebut bulan suci umat Islam, yakni “Ramadan” dan “Ramadhan”.
Perbedaan ini sering menimbulkan kebingungan, terutama dalam penulisan media, undangan kegiatan keagamaan, maupun dokumen resmi.
Dalam bahasa Arab, nama bulan tersebut ditulis رَمَضَان (Ramaḍān). Huruf “ض” (ḍad) tidak memiliki padanan bunyi yang persis sama dalam bahasa Indonesia. Karena itu, ketika ditransliterasikan ke huruf Latin, muncul beberapa variasi penulisan.
Jika mengikuti kaidah bahasa Indonesia modern dan pedoman transliterasi yang disederhanakan, penulisan yang dianggap baku adalah Ramadan. Penulisan ini dipakai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) serta digunakan secara resmi oleh banyak lembaga pemerintah dan media massa nasional.
Sementara itu, penulisan Ramadhan berasal dari metode transliterasi yang lebih dekat dengan pengucapan Arab klasik. Tambahan huruf “h” dimaksudkan untuk mewakili bunyi tebal pada huruf ḍad. Karena itulah, bentuk ini lebih sering ditemukan dalam kitab terjemahan lama, buku dakwah, atau spanduk kegiatan keagamaan.
Dalam Al-Qur’an sendiri, kata Ramadan disebutkan secara langsung:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat tersebut menegaskan bahwa yang dimaksud adalah satu nama bulan tertentu dalam kalender hijriah, sementara perbedaan penulisan hanya terkait alih huruf ke bahasa Latin, bukan perbedaan makna.
Para ahli bahasa menjelaskan, transliterasi Arab ke Indonesia memang tidak selalu tunggal. Banyak kata Arab memiliki lebih dari satu bentuk penulisan, seperti “salat–shalat” atau “zakat–zakah”. Perbedaan muncul karena perkembangan ejaan dari masa ke masa.
Dengan demikian, Ramadan merupakan bentuk baku menurut kaidah bahasa Indonesia modern, sedangkan Ramadhan masih dianggap benar dalam konteks religius atau penulisan bernuansa Arab. Keduanya merujuk pada bulan yang sama dan tidak memengaruhi keabsahan ibadah.