Ilustrasi - lima tanda awal penyakit kusta yang sering diabaikan (Foto: alomedika)
JAKARTA - Penyakit kusta masih ditemukan di Indonesia hingga sekarang, namun banyak kasus baru diketahui setelah kondisinya cukup berat. Hal ini terjadi karena gejala awalnya sering dianggap sebagai penyakit kulit biasa seperti panu, alergi, atau iritasi ringan.
Kurangnya pengetahuan masyarakat membuat penderita kerap menunda pemeriksaan. Mereka baru datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah muncul mati rasa atau kelemahan pada anggota tubuh. Padahal, kusta merupakan penyakit yang bisa disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini.
Secara medis, kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Kerusakan saraf inilah yang berbahaya karena dapat menimbulkan kecacatan permanen bila tidak segera diobati.
Karena itu, mengenali tanda awal kusta menjadi langkah penting agar pengobatan bisa dilakukan lebih cepat.
Gejala paling umum adalah muncul bercak pada kulit yang warnanya lebih pucat atau kemerahan dibanding area sekitarnya. Bercak ini biasanya tidak gatal sehingga sering dianggap panu atau kurap biasa.
Ciri khas kusta adalah hilangnya sensasi rasa. Penderita tidak merasakan sentuhan, cubitan, bahkan luka kecil di area bercak. Inilah tanda yang paling membedakan kusta dari penyakit kulit lain.
Area kulit yang terkena kusta menjadi kebal terhadap suhu. Saat terkena air panas atau benda dingin, penderita tidak merasakan apa pun. Kondisi ini berbahaya karena dapat menyebabkan luka tanpa disadari.
Saraf yang terganggu membuat kelenjar keringat tidak bekerja normal. Akibatnya kulit terlihat sangat kering, kasar, bahkan pecah-pecah pada bagian tertentu.
Pada tahap awal, penderita mulai merasakan jari tangan sulit menggenggam atau kaki terasa lemah. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi kelumpuhan permanen.