Ilustrasi - penyakit kusta (Foto: alomedika)
JAKARTA - Penyakit kusta masih menjadi salah satu penyakit yang paling disalahpahami di tengah masyarakat. Bukan karena tingkat bahayanya, melainkan karena stigma yang melekat selama ratusan tahun.
Banyak orang masih menganggap kusta sebagai penyakit kutukan atau hukuman, padahal ilmu kedokteran telah lama menjelaskan penyebabnya secara ilmiah.
Akibatnya, tidak sedikit penderita yang justru menyembunyikan kondisinya. Mereka takut dijauhi lingkungan, kehilangan pekerjaan, bahkan dikucilkan keluarga sendiri. Kondisi ini membuat pasien terlambat berobat dan berisiko mengalami kecacatan permanen.
Padahal saat ini pengobatan kusta sudah tersedia gratis di fasilitas kesehatan pemerintah. Bahkan setelah rutin mengonsumsi obat, penderita tidak lagi menularkan penyakit kepada orang lain. Edukasi menjadi kunci untuk menghentikan stigma yang tidak berdasar.
Memahami perbedaan antara mitos dan fakta sangat penting agar masyarakat tidak lagi memandang penderita kusta dengan ketakutan berlebihan.
Kusta merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini sama seperti infeksi lainnya dan tidak berkaitan dengan dosa, karma, maupun hal mistis.
Penularan kusta justru tergolong sulit. Penyakit ini biasanya menular melalui kontak erat dan lama dengan penderita yang belum menjalani pengobatan, bukan melalui pertemuan singkat.
Kusta bisa disembuhkan total dengan terapi MDT (Multi Drug Therapy). Obat tersedia gratis di puskesmas dan rumah sakit pemerintah.
Setelah minum obat secara rutin, penderita hampir tidak menularkan penyakit. Mereka tetap bisa bekerja, sekolah, dan beraktivitas seperti biasa.
Kusta tidak menular hanya karena bersalaman, duduk berdekatan, atau menggunakan peralatan makan yang sama. Kontak singkat tidak cukup untuk menularkan bakteri.
Kusta bukan penyakit genetik. Penyakit ini murni infeksi bakteri dan tidak diwariskan dari orang tua ke anak.
Kecacatan terjadi karena terlambat berobat. Jika dideteksi sejak awal, kusta dapat sembuh tanpa meninggalkan kerusakan tubuh.