Ilustrasi kecerdasan emosional rendah (FOTO: PSYCHOLOGY TODAY)
JAKARTA - Kecerdasan emosional tidak kalah penting dibanding kecerdasan intelektual. Kemampuan mengenali perasaan sendiri, memahami emosi orang lain, serta merespons situasi dengan tepat sangat memengaruhi hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari.
Tanpa pengelolaan emosi yang baik, seseorang mudah mengalami konflik, stres, dan kesulitan beradaptasi.
Orang dengan kecerdasan emosional rendah biasanya tidak menyadari bagaimana emosi memengaruhi perilakunya.
Sikap yang muncul sering dianggap sekadar sifat pribadi, padahal berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengendalikan perasaan.
Berikut beberapa tanda yang umum terlihat:
1. Sulit Mengendalikan Emosi
Seseorang mudah marah, tersinggung, atau bereaksi berlebihan terhadap hal kecil. Respons yang muncul sering spontan tanpa dipikirkan lebih dulu, lalu disesali setelahnya.
2. Kurang Empati
Kesulitan memahami perasaan orang lain menjadi ciri utama. Ia cenderung mengabaikan kondisi emosional orang di sekitarnya atau meremehkan masalah yang dialami orang lain.
3. Sering Menyalahkan Orang Lain
Ketika terjadi masalah, ia jarang melakukan refleksi diri. Kesalahan lebih sering diarahkan kepada keadaan atau orang lain, sehingga sulit belajar dari pengalaman.
4. Sulit Menerima Kritik
Masukan dianggap sebagai serangan pribadi. Akibatnya, ia mudah defensif, menolak saran, atau langsung membalas tanpa mempertimbangkan maksud sebenarnya.
5. Hubungan Sosial Tidak Stabil
Kesalahpahaman kerap terjadi karena komunikasi emosional kurang baik. Ia mungkin sering terlibat konflik atau mengalami kesulitan mempertahankan hubungan pertemanan maupun kerja.
6. Tidak Peka terhadap Situasi
Orang dengan kecerdasan emosional rendah sering tidak menyadari suasana sekitar, misalnya bercanda pada waktu yang tidak tepat atau berbicara tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
7. Impulsif dalam Bertindak
Keputusan sering diambil berdasarkan emosi sesaat. Reaksi cepat tanpa pertimbangan membuatnya mudah menyesal setelah situasi mereda.