• News

Wisuda STAI Sadra 2026: Cetak Lulusan Berkarakter Ilmiah

Vaza Diva | Sabtu, 07/02/2026 18:09 WIB
Wisuda STAI Sadra 2026: Cetak Lulusan Berkarakter Ilmiah Wisudawan Program magister Aqidah dan Filsafat Islam (MAFI) (Foto: Ist)

JAKARTA – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) untuk sarjana ke-7, serta Magister Aqidah dan Filsafat Islam (MAFI) untuk pascasarjana ke-4, Sabtu (7/2) di Jakarta, prosesi ini diikuti 70 wisudawan dan menjadi penanda berakhirnya satu fase akademik sekaligus awal pengabdian intelektual di masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustafa, Hossein Mottaghi, mengulas peran intelektual Muslim di era kontemporer.

"Intelektual Muslim adalah penjaga makna agama sekaligus partisipan aktif pembangunan sosial. Tugas kalian adalah memproduksi wacana moderasi dan memodernisasi institusi berbasis pengetahuan," ucapnya.

Ketua STAI Sadra, Otong Sulaeman juga menyampaikan wisuda sebagai wujud syukur atas capaian akademik sekaligus awal tanggung jawab baru. 

Ia memaparkan penguatan kelembagaan melalui Statuta 2025, pembaruan sistem akademik, peningkatan jumlah mahasiswa hingga lebih dari 300 orang termasuk mahasiswa internasional, serta pengembangan asrama terintegrasi. 

"Kami tidak hanya mengejar prestasi akademik, tapi juga pembentukan karakter berbasis hikmah agar lulusan menjadi kritis dan berpegang pada nilai keislaman," kata Ketua STAI Sadra.

Lebih lanjut, Perwakilan Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten, Abdul Muin, mengapresiasi capaian STAI Sadra, termasuk peningkatan peringkat jurnal Sinta ke level satu. 

Ia memberi gambaran peran lulusan, dengan menyebut IAT sebagai embun yang memaknai cahaya wahyu dalam kehidupan, sementara AFI sebagai ksatria logika yang menghidupkan filsafat sebagai cinta kebijaksanaan.

Gagasan tentang relevansi filsafat Islam bagi masa depan Indonesia semakin ditegaskan melalui Orasi Ilmiah oleh Kholid Al Walid yang berjudul `Filsafat Islam dan Kemajuan Bangsa Indonesia.`

Kholid Al Walid menyoroti peran filsafat Islam dalam membangun cara berpikir rasional, moderat, dan kontekstual, terutama dalam menghadapi disrupsi sosial dan krisis nilai. Filsafat, menurutnya, menjadi jembatan penting antara iman, akal, dan penguatan nilai kebangsaan.

Melalui wisuda ini, STAI Sadra menegaskan posisinya sebagai ruang lahirnya intelektual Muslim yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial, mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar nilai keislaman.