Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: Anadolu)
Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Kamis bahwa ia tetap memiliki hak untuk “mengamankan secara militer dan memperkuat kehadiran Amerika Serikat” di Kepulauan Chagos, menyusul pembicaraan yang ia sebut “sangat produktif” dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap dari kritik tajam yang ia lontarkan bulan lalu.
"Saya paham bahwa kesepakatan yang dibuat PM Starmer, menurut banyak pihak, adalah kesepakatan terbaik yang dapat dia capai," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, merujuk pada perjanjian pengalihan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius yang ditandatangani Starmer pada 2025.
"Namun, jika perjanjian sewa tersebut di kemudian hari gagal, atau ada pihak yang mengancam atau membahayakan operasi dan pasukan AS di pangkalan kami, saya tetap memiliki hak untuk mengamankan secara Militer dan memperkuat kehadiran Amerika di Diego Garcia," ujar Trump dengan nada memperingatkan.
Dia menggambarkan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, pulau terbesar di Kepulauan Chagos, sebagai instalasi strategis di Samudra Hindia yang memiliki arti sangat penting bagi keamanan nasional dan operasi militer global AS.
Dalam sebuah unggahan pada bulan lalu, Trump mengecam keputusan Inggris untuk menyerahkan kedaulatan atas Kepulauan Chagos kepada Mauritius sebagai "kebodohan besar".
Pada 2019, Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Inggris telah memecah Kepulauan Chagos secara ilegal dan seharusnya melepaskan kendali atas kepulauan tersebut.
Tahun lalu, Starmer menandatangani perjanjian pengalihan kedaulatan atas Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Berdasarkan ketentuan perjanjian tersebut, yang dikabarkan berlaku selama 99 tahun, Mauritius akan menyewakan kembali pangkalan militer Diego Garcia kepada Inggris dan AS.
Pada 1965, kepulauan itu dipisahkan dari Mauritius, yang saat itu masih merupakan koloni Inggris. Inggris kemudian mengundang AS untuk membangun pangkalan militer di sana, sebuah langkah yang menyebabkan ribuan warga Chagos terusir dari tempat tinggal mereka.