Ilustrasi - Mengenal ciri-ciri avoidant (foto:dkonten)
JAKARTA - Istilah avoidant sering muncul dalam pembahasan psikologi, terutama terkait hubungan interpersonal dan kesehatan mental. Secara umum, avoidant merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menghindari kedekatan emosional, konflik, atau situasi yang dirasa menimbulkan tekanan perasaan.
Dalam konteks psikologi, avoidant sering dikaitkan dengan pola keterikatan menghindar. Pola ini biasanya berkembang sejak masa kanak-kanak, terutama ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang kurang responsif terhadap kebutuhan emosionalnya.
Seseorang dengan kecenderungan avoidant umumnya merasa tidak nyaman dengan hubungan yang terlalu dekat. Mereka bisa terlihat mandiri, tenang, dan tidak banyak bergantung pada orang lain.
Namun di balik itu, sering terdapat kesulitan dalam mengekspresikan perasaan, mengungkap kebutuhan emosional, atau menerima dukungan dari lingkungan sekitar.
Ciri umum avoidant terlihat dari kecenderungan menjaga jarak emosional. Individu avoidant biasanya enggan membicarakan perasaan secara mendalam dan cenderung mengalihkan pembicaraan ketika topik menjadi terlalu personal.
Mereka juga sering merasa tidak membutuhkan orang lain, meskipun dalam situasi tertentu sebenarnya memerlukan dukungan.
Dalam hubungan sosial maupun romantis, pola avoidant dapat muncul dalam bentuk menarik diri saat hubungan mulai terasa intens. Ketika muncul konflik, mereka lebih memilih diam, menghindar, atau menyibukkan diri dengan hal lain daripada membahas masalah secara terbuka.
Hal ini bukan karena tidak peduli, melainkan karena konflik sering dianggap sebagai ancaman terhadap kestabilan emosional mereka.
Avoidant juga kerap memiliki kesulitan mempercayai orang lain sepenuhnya. Ketergantungan emosional dipandang sebagai kelemahan, sehingga mereka berusaha tetap terlihat kuat dan tidak membutuhkan siapa pun.
Dalam jangka panjang, pola ini bisa membuat seseorang merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.
Meski demikian, avoidant bukanlah kondisi permanen atau gangguan yang tidak bisa berubah. Pola ini merupakan mekanisme bertahan yang dulu mungkin membantu seseorang menghadapi situasi sulit.
Dengan meningkatnya kesadaran diri, komunikasi yang aman, dan dukungan yang tepat, individu avoidant dapat belajar membangun kedekatan emosional secara bertahap.