• Oase

Keutamaan Petani dalam Islam, Pahalanya Terus Mengalir

M. Habib Saifullah | Senin, 02/02/2026 16:05 WIB
Keutamaan Petani dalam Islam, Pahalanya Terus Mengalir Ilustrasi - Petani sedang membajak tanah (Foto: siedoo)

JAKARTA - Profesi petani memegang peranan vital dalam kehidupan manusia karena berhubungan langsung dengan pemenuhan kebutuhan pangan.

Dalam ajaran Islam, kegiatan bertani tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai amal kebaikan yang bernilai ibadah serta memberikan manfaat bagi manusia dan seluruh makhluk hidup.

Islam memuliakan setiap pekerjaan yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang. Oleh karena itu, proses menanam, merawat, hingga memanen hasil bumi dipahami sebagai bagian dari amanah memakmurkan kehidupan dan menjaga kelestarian ciptaan Allah SWT.

Keutamaan menjadi petani secara tegas dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

فلا يَغْرِسُ المُسْلِمُ غَرْسًا، فَيَأْكُلَ منه إنْسَانٌ، وَلَا دَابَّةٌ، وَلَا طَيْرٌ، إلَّا كانَ له صَدَقَةً إلى يَومِ القِيَامَةِ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian manusia, hewan melata, maupun burung memakan hasilnya, melainkan baginya bernilai sedekah hingga hari kiamat.” (HR Muslim)

Setiap manfaat yang diambil dari tanaman, baik oleh manusia maupun makhluk lain menjadi sedekah yang pahalanya terus mengalir selama tanaman itu memberi manfaat.

Keistimewaan lain dari profesi petani adalah nilai keberlanjutan amalnya. Selama tanaman tumbuh dan dimanfaatkan, pahala akan terus dicatat, bahkan tanpa disadari oleh orang yang menanamnya. Inilah bentuk sedekah jariyah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, bertani juga mengajarkan kesabaran dan tawakal. Petani bekerja keras mengolah lahan dan menanam benih, namun hasil akhirnya tetap bergantung pada kehendak Allah SWT.

Proses ini mendidik sikap rendah hati dan kesadaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, sementara Allah yang menentukan hasilnya.

Islam juga mendorong umatnya untuk mencari rezeki dari usaha yang halal dan baik. Hasil pertanian yang diperoleh dari kerja tangan sendiri termasuk rezeki yang bersih dan tidak merugikan orang lain, sejalan dengan nilai keadilan dan keberkahan dalam muamalah Islam.

Dengan demikian, menjadi petani dalam pandangan Islam bukan sekadar profesi, melainkan jalan ibadah yang sarat nilai kebaikan.