Pemandangan Bumi (Foto via Reuters)
JAKARTA - Istilah gravitasi belakangan ini ramai diperbincangkan publik seiring beredarnya klaim di media sosial yang menyebut Bumi akan kehilangan gaya gravitasi selama tujuh detik pada 12 Agustus 2026. Isu yang mencatatut nama NASA ini memicu kepanikan karena dikaitkan dengan kematian massal dan tuduhan bahwa informasi itu sengaja disembunyikan.
Menanggapi kabar tersebut, NASA menegaskan klaim itu tidak memiliki dasar ilmiah dan dikategorikan sebagai hoaks. Badan antariksa Amerika Serikat itu menyatakan tidak ada mekanisme fisika yang memungkinkan gravitasi Bumi hilang secara tiba-tiba, bahkan hanya sesaat.
Lantas, apa sebenarnya arti gravitasi? Bagaimana jika Bumi tiba-tiba kehilangan gravitasinya, meski hanya sesaat? Apa yang akan terjadi?
Dikutip dari berbagai sumber, gravitasi Bumi merupakan gaya tarik alami yang membuat seluruh benda bermassa tertarik ke pusat Bumi. Gaya paling fundamental ini membuat segala sesuatu di Bumi tetap “pada tempatnya”, Bumi tetap stabil dan layak huni.
Para ilmuwan berpendapat, jika gravitasi Bumi mendadak menjadi nol atau hilang, bahkan hanya beberapa saat, planet ini akan menghadapi kekacauan total yang menyerupai kiamat kosmik, demikian dikutip Good Magazine.
Secara fisika, gravitasi berfungsi seperti medan tak kasatmata yang menarik seluruh materi ke pusat Bumi, mulai dari manusia, bangunan, lautan, hingga atmosfer. NASA mendefinisikan gravitasi sebagai gaya yang membuat Bumi tetap utuh sekaligus menjaga orbitnya mengelilingi Matahari.
Ketika gaya ini lenyap, efek pertama akan langsung dirasakan manusia. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh ilmuwan planet dari University of Central Florida, Philip Metzger, dikutip FOXWeather. Menurutnya, sensasi pertama yang akan dirasakan ialah seperti jatuh, terlempar ke atas, terlepas dari permukaan Bumi.
Metzger menjelaskan, tubuh manusia terbiasa dengan tarikan gravitasi yang menjaga posisi darah dan organ tetap seimbang. Ketika gaya itu menghilang, otak dan tubuh kehilangan sinkronisasi, memicu mual hingga muntah, kondisi yang juga dialami astronot di luar angkasa, atau fenomena space sickness.
Dalam waktu bersamaan, kekacauan lingkungan pun tak terelakkan. Tanpa gravitasi, seluruh air di Bumi, termasuk laut, sungai, dan danau, akan terangkat dan bergerak menuju angkasa.
Efek lainnya, atmosfer tidak akan bertahan lebih lama. Udara akan segera menipis dan tersedot ke ruang hampa, membuat tekanan menurun drastis. Dalam waktu singkat, tekanan udara menjadi terlalu rendah untuk menopang kesadaran manusia.
Dari sudut pandang fisika, kondisi ini memicu peningkatan entropi atau kekacauan sistem. Gravitasi selama ini berperan menjaga keseimbangan Bumi, dan kehilangannya akan mempercepat keruntuhan tatanan planet, bahkan memengaruhi stabilitas tata surya.
Meski terdengar mengerikan, para ilmuwan memastikan skenario ini hampir mustahil terjadi. Gravitasi berasal dari massa Bumi, dan selama planet ini memiliki massa, gaya gravitasi tidak akan lenyap begitu saja.
Dengan demikian, hilangnya gravitasi tetap menjadi ranah fiksi ilmiah. Namun, skenario ekstrem ini mengingatkan satu hal penting bahwa gravitasi adalah fondasi kehidupan, dan tanpa gaya tak terlihat ini, Bumi tak lebih dari butiran debu yang melayang di ruang angkasa. (*)