• Oase

Pentingnya Bertabayyun Sebelum Bertindak dalam Islam

Agus Mughni Muttaqin | Jum'at, 30/01/2026 23:20 WIB
Pentingnya Bertabayyun Sebelum Bertindak dalam Islam Ilustrasi kata tabayyun, serta pentingnya bertabayyun (Foto: Pesantren Nuris)

JAKARTA - Di tengah derasnya arus informasi, tabayyun atau klarifikasi sebelum bertindak menjadi prinsip penting yang masih relevan. Secara bahasa, kata tabayyun merupakan bentuk masdar dari kata tabayyana yang berakar dari kata bana atau bayan yang bermakna jelas, terang, dan tidak samar.

Secara sederhana, tabayyun berarti mencari tahu kebenaran suatu berita atau informasi sebelum menyebarkannya atau mengambil keputusan hingga tindakan. Tabayyun bertujuan menghadirkan kejelasan atas sebuah informasi. Dengan kata lain, tabayyun menuntut seseorang memastikan kebenaran sebelum menarik kesimpulan atau tindakan.

Prinsip ini menjadi krusial terutama ketika informasi berasal dari sumber yang meragukan dan berpotensi menimbulkan fitnah atau mudarat. Tanpa tabayyun, informasi yang keliru dapat dengan cepat memicu kesalahpahaman, bahkan konflik sosial.

Dikutip dari berbagai sumber, dalam Islam, perintah tabayyun termaktub di antaranya dalam Surah Al-Hujurat ayat 6. Ayat tersebut mengingatkan agar setiap berita atau informasi yang datang, terutama dari pihak yang tidak dapat dipercaya, harus diteliti kebenarannya agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Pesan tersebut menekankan pentingnya kehati-hatian agar seseorang tidak mencelakakan orang lain akibat ketidaktahuan, tidak teliti atau miskomunikasi. Dengan demikian, tabayyun menjadi fondasi dalam menjaga keadilan dan kemanusiaan.

Ketika menerima informasi, umat Islam dianjurkan bersikap tenang dan tidak mengedepankan emosi. Sikap kepala dingin membantu memahami duduk perkara secara jernih sebelum mengambil sikap.

Tabayyun juga mengajarkan untuk tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Setiap kabar perlu ditelusuri sumbernya, dibandingkan dengan informasi lain, serta bila perlu dan memungkinkan harus dikonfirmasi kepada pihak terkait.

Selain sebagai metode verifikasi, tabayyun merupakan bagian dari akhlak mulia dalam Islam. Prinsip ini menjaga kehormatan sesama, mencegah prasangka buruk, dan menghindarkan umat dari perbuatan ghibah maupun fitnah.

Al-Qur’an menegaskan pesan tersebut dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang melarang prasangka, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing orang lain. Larangan ini menegaskan bahwa menjaga lisan dan sikap sama pentingnya dengan menjaga kebenaran informasi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, isu, gosip, dan adu domba kerap muncul dan diperparah oleh penyebaran informasi tanpa tanggung jawab. Bahkan, sebagian pihak menjadikan gosip dan aib orang lain sebagai komoditas demi keuntungan dan popularitas.

Karena itu, sikap tabayyun perlu ditanamkan sebagai kebiasaan, bukan sekadar anjuran. Setiap informasi yang diterima dan dibagikan harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial.

Membiasakan tabayyun dapat dimulai dengan riset sederhana, seperti membaca lebih dari satu sumber terpercaya. Cara ini membantu menghindari kesalahan persepsi dan penilaian yang terburu-buru.

Sejak masa Rasulullah SAW, prinsip tabayyun telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam. Al-Qur’an secara tersurat dan tersirat mengajarkan pentingnya berpikir matang sebelum bertindak dalam setiap aspek kehidupan.

Di era informasi tanpa batas saat ini, kedewasaan dalam menyikapi berita atau informasi menjadi kebutuhan mendesak. Tabayyun hadir sebagai jalan untuk mencegah provokasi dan menjaga keharmonisan sosial.

Dengan bertabayyun, umat Islam tidak hanya menjaga diri dari dosa akibat hoaks, tetapi juga melindungi orang lain dari dampak informasi yang salah. Tabayyun, pada akhirnya, adalah bentuk tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat. (*)