Penguin Afrika. (FOTO: CARBONBRIEF)
JAKARTA - Di tengah gumpalan es Antartika, penguin tetap menjadi ikon kehidupan laut yang menarik perhatian dunia. Burung laut ini tidak bisa lagi terbang, namun kemampuan berenangnya luar biasa berkat sayap yang berevolusi menjadi alat selam yang efisien.
Tubuh penguin dilapisi bulu pendek dan rapat, yang meminimalkan gesekan saat menyelam sekaligus menjaga panas tubuh. Lapisan udara yang terperangkap di antara bulu serta lemak tebal membuat mereka tetap hangat meski berenang di perairan beku.
Selain adaptasi fisik, perilaku penguin juga mendukung kelangsungan hidup. Mereka berkumpul dalam huddle saat badai, berbagi panas tubuh, dan melindungi anak-anaknya dari cuaca ekstrem.
Meski identik dengan Kutub Selatan, banyak yang bertanya-tanya mengapa penguin tidak ditemukan di Kutub Utara. Jawabannya terletak pada sejarah evolusi dan ekosistem yang membentuk batas alami mereka selama jutaan tahun.
Nenek moyang penguin berevolusi di belahan bumi selatan dari burung laut yang mampu terbang. Seiring waktu, sayap mereka berubah menjadi alat selam, sementara kemampuan terbang menghilang karena tidak lagi menguntungkan di lingkungan laut dingin.
Arus laut dingin yang mengelilingi Antartika menyediakan nutrisi melimpah bagi plankton, ikan, dan krill, sumber makanan utama penguin. Tanpa arus ini, penguin tidak dapat bertahan, yang menjelaskan mengapa mereka jarang ditemukan jauh dari selatan, kecuali Galapagos penguin di sekitar khatulistiwa.
Hambatan terbesar menuju Kutub Utara adalah perairan tropis ekuator. Tubuh penguin dirancang untuk mempertahankan panas di laut dingin, sehingga berenang ribuan kilometer melintasi perairan hangat berisiko fatal.
Upaya manusia pernah mencoba memperkenalkan penguin ke wilayah utara, termasuk Norwegia pada 1930-an. Namun mereka gagal beradaptasi dengan predator lokal dan siklus musim di Arktik, membuktikan bahwa suhu dingin saja tidak cukup untuk menopang hidup penguin.
Selain faktor suhu, ekosistem Kutub Utara dan sekitarnya berbeda secara drastis. Antartika minim predator darat, memungkinkan penguin bersarang di es atau bebatuan, sementara Arktik dihuni beruang kutub dan rubah yang membuat penguin rentan.
Evolusi juga mendorong penguin menjadi penyelam ekstrem, berbeda dengan burung laut utara seperti puffin yang tetap bisa terbang. Strategi ini mengoptimalkan mereka untuk mencari makan di laut dingin tanpa perlu takut predator darat.
Fosil menunjukkan penguin berevolusi di belahan bumi selatan sekitar 60 juta tahun lalu, beradaptasi dengan kondisi laut yang dingin dan kaya makanan. Kehadiran mereka di Antartika kini terancam oleh perubahan iklim, yang mempercepat pencairan es laut dan mengancam kelangsungan anak-anak penguin.
Meskipun terlihat sepele, distribusi penguin adalah contoh keseimbangan alam yang rapuh. Keberadaan mereka di selatan bukan kebetulan, melainkan hasil adaptasi puluhan juta tahun yang kini mengingatkan manusia untuk menjaga lingkungan alami mereka.