• Gaya Hidup

Nihil di Arktik, Mengapa Penguin Bisa Beranak Pinak di Antartika?

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 29/01/2026 22:35 WIB
Nihil di Arktik, Mengapa Penguin Bisa Beranak Pinak di Antartika? Penguin Kaisar dari Antartika. (FOTO: WIKIMEDIA COMMONS)

JAKARTA - Penguin identik dengan wilayah bersalju dan suhu ekstrem, sehingga banyak orang mengira mereka hidup di semua kawasan kutub. Namun faktanya, tidak ada satu pun spesies penguin yang hidup di Greenland, termasuk di Arktik, meski wilayah ini sama dinginnya dengan Antarktika.

Perbedaan tersebut tidak berkaitan dengan suhu semata, melainkan berakar pada sejarah evolusi dan batas alam yang terbentuk selama jutaan tahun. Untuk memahaminya, perlu melihat bagaimana penguin pertama kali muncul dan beradaptasi dengan lingkungannya.

Dikutip dari berbagai sumber, penguin berevolusi sekitar 60 juta tahun lalu di Belahan Bumi Selatan ketika daratan masih tergabung dalam benua purba Gondwana. Nenek moyangnya adalah burung laut yang mampu terbang, tetapi hidup di perairan dingin yang kaya sumber makanan.

Seiring waktu, seleksi alam mendorong perubahan besar pada tubuh penguin, terutama pada sayap yang berevolusi menjadi alat selam yang sangat efisien. Adaptasi ini menjadikan penguin penyelam unggul, tetapi sekaligus menghilangkan kemampuan terbang yang penting untuk mobilitas jarak jauh.

Kondisi tersebut membuat penguin terikat pada wilayah laut dingin yang stabil dan produktif. Karena itu, keberadaan mereka sangat bergantung pada arus laut dingin yang membawa nutrisi, plankton, ikan, dan krill.

Antarktika menyediakan kondisi ideal tersebut karena dikelilingi Samudra Selatan yang dingin dan relatif stabil. Bahkan spesies yang hidup jauh dari benua itu, seperti penguin Galapagos, tetap bergantung pada arus laut dingin untuk bertahan hidup.

Sebaliknya, jalan alami menuju Arktik terhalang oleh perairan tropis di sekitar ekuator. Tubuh penguin yang dirancang untuk menyimpan panas membuat perjalanan panjang melintasi laut hangat berisiko menyebabkan stres panas yang mematikan.

Hambatan geografis ini menjelaskan mengapa penguin tidak pernah menyebar ke Belahan Bumi Utara secara alami. Namun faktor geografis bukan satu-satunya penghalang bagi kehidupan penguin di Arktik.

Struktur ekosistem kedua wilayah kutub sangat berbeda. Antarktika merupakan benua yang dikelilingi samudra dan hampir tidak memiliki predator darat, sedangkan Arktik adalah samudra yang dikelilingi daratan dengan predator aktif.

Di Arktik, beruang kutub, rubah Arktik, dan serigala menjadi ancaman nyata bagi burung yang bersarang di tanah. Bagi penguin yang tidak bisa terbang, kondisi ini membuat Arktik menjadi lingkungan yang sangat berbahaya.

Sebaliknya, ketiadaan predator darat di Antarktika memungkinkan penguin berkembang biak di es atau bebatuan tanpa perlindungan khusus. Strategi ini terbukti efektif selama jutaan tahun dalam lingkungan selatan.

Burung laut Arktik memilih jalur evolusi yang berbeda untuk bertahan hidup. Spesies seperti puffin dan guillemot tetap mempertahankan kemampuan terbang meski juga menyelam untuk mencari makan.

Kemampuan terbang tersebut memberi perlindungan penting dari predator darat, meski membuat mereka kurang efisien di bawah air dibanding penguin. Evolusi pada penguin justru mengoptimalkan satu fungsi, yaitu menyelam, yang cocok dengan kondisi Antarktika.

Wilayah utara sendiri pernah memiliki burung laut besar yang tidak bisa terbang, yakni Great Auk. Meski secara fisik mirip penguin, spesies ini tidak berkerabat dekat dan punah pada abad ke-19 akibat perburuan manusia.

Kepunahan Great Auk menunjukkan betapa rentannya burung tak bisa terbang di Arktik, terutama saat berhadapan dengan manusia dan predator darat. Fakta ini memperkuat alasan mengapa penguin tidak pernah menetap di wilayah tersebut.

Upaya manusia untuk memperkenalkan penguin ke Arktik juga pernah dilakukan pada abad ke-20. Namun percobaan tersebut gagal karena penguin tidak mampu beradaptasi dan menjadi mangsa predator lokal.

Kegagalan ini menegaskan bahwa suhu dingin saja tidak cukup untuk menopang kehidupan penguin. Kesesuaian ekosistem dan sejarah evolusi memegang peran yang jauh lebih penting.

Ironisnya, ancaman terbesar penguin saat ini justru datang dari habitat aslinya di selatan. Perubahan iklim menyebabkan es laut Antarktika mencair lebih cepat dan mengganggu siklus berkembang biak, terutama pada penguin kaisar.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keberadaan penguin adalah hasil keseimbangan alam yang sangat spesifik. Mereka tetap berada di selatan bukan karena tidak mampu bergerak jauh, melainkan karena alam telah menetapkan batas yang kini semakin rapuh akibat pemanasan global. (*)

Sumber: Discover Wild Life, Mongabay, National Geographic, Britannica, Aurora Expeditions, dan berbagai sumber lainnya.