Gunung Sanggabuana di Karawang, Jawa Barat (Foto: Antara)
JAKARTA - Gunung Sanggabuana merupakan gunung tertinggi sekaligus satu-satunya gunung yang menjulang di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dengan ketinggian sekitar 1.291 meter di atas permukaan laut.
Gunung Sanggabuana, yang membentang di wilayah Karawang, Purwakarta, Cianjur, dan Bogor, dikenal sebagai kantung populasi macan tutul Jawa di luar kawasan konservasi. Gunung ini juga menjadi ikon geografis sekaligus penyangga ekosistem penting di jantung Jawa Barat.
Baru-baru ini, Gunung Sanggabuana kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan perburuan liar satwa dilindungi, termasuk macan tutul Jawa. Kasus ini menegaskan pentingnya kawasan hutan Sanggabuana sebagai ruang hidup satwa endemik dan habitat alami yang kompleks.
Dikutip dari berbagai sumber, secara administratif, gunung ini terletak di Kecamatan Tegalwaru, Karawang, dan Tanjungsari, Jonggol, Bogor. Kawasan hutan Sanggabuana membentang di perbatasan empat kabupaten: Karawang, Purwakarta, Cianjur, dan Bogor, serta termasuk Formasi Jatiluhur yang dipisahkan oleh Sungai Ci Beet dari rangkaian Pegunungan Jonggol.
Hutan di Sanggabuana masih relatif terjaga dengan pepohonan besar dan pohon kemenyan yang tumbuh liar. Keutuhan vegetasi ini mendukung ratusan jenis satwa liar, termasuk owa Jawa, naga Jawa, lutung, elang, hingga macan tutul Jawa sebagai predator puncak.
Dikutip dari Mongabay, Peneliti KLHK Hendra Gunawan mencatat pada 2013 bahwa kawasan ini merupakan kantung macan tutul Jawa di luar taman nasional. Kondisi hutan yang rapat membuatnya dijuluki “Kalimantan-nya” di jantung Jawa Barat, menunjukkan nilai ekologis dan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Menurut Sanggabuana Conservation Foundation, kawasan ini memiliki lebih dari 400 jenis satwa liar dan ratusan titik mata air. Data ini memperkuat peran Gunung Sanggabuana sebagai penyangga kehidupan manusia dan satwa di sekitarnya.
Kendati demikian, degradasi lahan, aktivitas manusia, dan eksploitasi sumber daya alam menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa dan vegetasi. Sementara itu, hutan yang lestari menawarkan manfaat lebih luas dan jangka panjang.
Selain nilai ekologis, Gunung Sanggabuana juga memiliki makna budaya dan spiritual. Masyarakat Sunda memandang kawasan ini sebagai patilasan Prabu Siliwangi, tempat melakukan laku lampah dan aktivitas spiritual yang masih dijaga hingga kini.
Gunung Sanggabuana juga menjadi tujuan pendakian dan wisata alam. Jalur pendakian via Karawang menawarkan rute terjal namun jelas, melewati persawahan, desa kecil, perkebunan kopi, hingga hutan, dengan puncak yang menyuguhkan panorama Kota Karawang, Bendungan Jatiluhur, dan menara Lippo Cikarang.
Status hutan saat ini masih masuk kategori hutan produksi, namun tengah diusulkan menjadi kawasan konservasi berupa taman nasional. Langkah ini diharapkan bisa menjaga kelestarian flora, fauna, dan warisan budaya sekaligus menjadi ruang hidup yang seimbang antara manusia dan alam.
Dengan kombinasi nilai ekologis, budaya, dan wisata, Gunung Sanggabuana bukan sekadar gunung tertinggi Karawang. Ia menjadi simbol identitas lokal, kantung keanekaragaman hayati, dan penyangga ekosistem yang harus dijaga untuk generasi mendatang. (*)