Ilustrasi - Seseorang sedang berdoa (Foto: Unsplash/Imad Alassiry)
JAKARTA - Dalam tradisi keilmuan Islam, terutama dalam ajaran tasawuf, dikenal empat fase utama dalam proses spiritual seorang Muslim, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
Keempat konsep ini tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi antara dimensi lahir dan batin dalam beragama.
Syariat merupakan fondasi utama dalam Islam. Syariat mencakup seluruh hukum dan aturan lahiriah yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, seperti kewajiban salat, puasa, zakat, haji, serta ketentuan muamalah dan akhlak.
Dalam pandangan para ulama, syariat adalah pintu masuk menuju kedekatan dengan Allah SWT. Tanpa syariat, perjalanan spiritual tidak memiliki pijakan yang benar dan berisiko menyimpang.
Tahapan berikutnya adalah tarekat, yang secara bahasa berarti jalan. Tarekat dipahami sebagai metode pembinaan spiritual untuk menghidupkan syariat secara batin.
Praktik tarekat diwujudkan melalui zikir, mujahadah, riyadhah, dan pengawasan diri dengan bimbingan seorang guru atau mursyid. Tarekat bukanlah ajaran baru di luar Islam, melainkan sarana untuk memperdalam kualitas pengamalan syariat agar ibadah dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan.
Penjelasan mengenai tahapan spiritual ini banyak ditemukan dalam kitab Manāzil as-Sā’irīn karya Abdullah bin Muhammad al-Anshari al-Harawi, seorang ulama besar dalam tradisi tasawuf.
Dalam kitab tersebut, Al-Anshari menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah terdiri dari seratus maqām (tahapan spiritual) yang tersusun secara sistematis, dimulai dari kesadaran awal seorang hamba hingga puncak pengenalan kepada Allah.
Dalam kerangka Manāzil as-Sā’irīn, syariat dan tarekat tidak dipisahkan. Al-Anshari menegaskan bahwa setiap maqām spiritual harus dibangun di atas ketaatan terhadap syariat.
Bahkan, ia mengingatkan bahwa setiap pengalaman batin yang tidak selaras dengan Al-Qur’an dan sunnah harus ditolak, meskipun tampak “spiritual” secara lahir.
Tahapan hakikat dalam perspektif Al-Anshari merujuk pada terbukanya pemahaman batin terhadap kebenaran ilahiah. Pada tahap ini, seorang hamba mulai menyadari makna terdalam dari ibadah yang dijalankan.
Hakikat bukanlah pengetahuan spekulatif, melainkan kesadaran yang lahir dari ketekunan dalam syariat dan disiplin tarekat. Dalam Manāzil as-Sā’irīn, hakikat muncul seiring meningkatnya kejujuran, keikhlasan, dan pengawasan diri (muraqabah).
Adapun makrifat diposisikan sebagai puncak perjalanan spiritual. Al-Anshari mendefinisikan makrifat sebagai pengenalan yang mendalam terhadap Allah SWT yang melahirkan rasa tunduk, cinta, dan ketergantungan total kepada-Nya.
Makrifat bukan berarti menyatu dengan Tuhan, melainkan kesadaran penuh akan kelemahan diri sebagai hamba dan keagungan Allah sebagai Rabb. Dalam maqām ini, seorang hamba tidak lagi beribadah karena dorongan pahala atau takut siksa semata, tetapi karena kesadaran penghambaan yang murni.
Penting dicatat bahwa Al-Anshari menolak pemisahan tajam antara syariat dan hakikat. Dalam Manāzil as-Sā’irīn, ia menegaskan bahwa syariat adalah hakikat yang tampak, dan hakikat adalah syariat yang hidup di dalam hati. Artinya, semakin tinggi maqām spiritual seseorang, semakin kuat pula komitmennya terhadap syariat.
Dengan demikian, konsep syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat dalam Islam sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah al-Anshari—bukanlah jenjang yang saling meniadakan, tetapi proses bertahap menuju kesempurnaan penghambaan.
Syariat menjadi dasar, tarekat sebagai jalan pembinaan, hakikat sebagai pemahaman batin, dan makrifat sebagai tujuan spiritual tertinggi yang tetap terikat pada Al-Qur’an dan sunnah.