Baterai Kendaraan Listrik
JAKARTA - Kekhawatiran soal usia baterai masih menjadi ganjalan utama bagi calon pengguna mobil listrik, terutama mereka yang berencana menyimpan kendaraan dalam jangka panjang. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa anggapan baterai EV cepat aus tidak sepenuhnya benar.
Analisis Geotab terhadap 22.700 mobil listrik dari 21 model berbeda mencatat degradasi baterai rata-rata hanya 2,3 persen per tahun. Dengan laju tersebut, baterai mobil listrik diperkirakan baru turun ke kapasitas 75 persen setelah sekitar 13 tahun pemakaian.
Temuan ini menegaskan bahwa usia baterai EV cenderung lebih panjang dari perkiraan banyak konsumen. Penurunan kapasitas memang terjadi secara alami, tetapi dampaknya umumnya baru terasa saat perjalanan jarak jauh.
Meski demikian, kebiasaan pengisian daya terbukti berpengaruh besar terhadap keawetan baterai mobil listrik. Kendaraan yang rutin menggunakan fast charging mengalami degradasi hingga 3 persen per tahun, hampir dua kali lipat dibanding pengisian daya lambat.
Kondisi tersebut dipicu oleh panas dan tekanan tinggi yang muncul saat pengisian berdaya besar. Karena itu, penggunaan fast charging disarankan dibatasi untuk kebutuhan tertentu seperti perjalanan jarak jauh.
Selain pola pengisian daya, faktor iklim juga ikut memengaruhi degradasi baterai EV. Mobil listrik yang beroperasi di wilayah bersuhu tinggi tercatat mengalami penurunan kapasitas sekitar 0,4 persen lebih cepat per tahun.
Namun demikian, Geotab menilai kebiasaan charging memiliki dampak yang lebih besar dibanding kondisi cuaca. Dengan manajemen pengisian daya yang tepat, risiko akibat suhu panas masih dapat diminimalkan.
Dalam penggunaan armada, kendaraan listrik dengan jarak tempuh tinggi memang menunjukkan degradasi baterai sedikit lebih cepat. Meski begitu, penurunan tersebut dinilai sebanding dengan efisiensi biaya dan manfaat operasional yang diperoleh.
Studi ini juga menunjukkan bahwa baterai EV umumnya bertahan melampaui siklus penggantian yang selama ini direncanakan operator armada. Hal ini mengindikasikan usia pakai baterai kerap lebih panjang dari asumsi awal industri.
Sementara itu, kebiasaan membiarkan baterai terlalu sering berada di kondisi penuh atau hampir kosong dapat mempercepat degradasi. Dampak signifikan baru muncul jika kondisi ekstrem tersebut terjadi secara rutin dalam jangka panjang.
Di luar masa garansi delapan tahun atau 160 ribu kilometer, baterai mobil listrik masih berpotensi digunakan bertahun-tahun. Karena itu, data kesehatan baterai menjadi faktor penting, terutama bagi pasar mobil listrik bekas.
Seiring usia baterai yang semakin panjang, keuntungan lingkungan kendaraan listrik pun semakin nyata. Setelah dua tahun pemakaian, emisi yang dihindari terus bertambah dan membuat dampak lingkungan mobil berbahan bakar fosil tetap jauh lebih tinggi.
Secara keseluruhan, data-data menunjukkan bahwa baterai mobil listrik memiliki usia pakai yang relatif panjang. Dengan pola penggunaan yang wajar, masa pakai baterai dapat melampaui satu dekade. (*)