• News

BPBD: Tangerang Masih Berstatus Waspada Potensi Hujan Lebat

M. Habib Saifullah | Minggu, 25/01/2026 12:35 WIB
BPBD: Tangerang Masih Berstatus Waspada Potensi Hujan Lebat Hujan pada awal November ini mengkhiri tren suhu panas di Indonesia. (foto:ilustrasi hujan)

JAKARTA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Banten mengungkapkan saat ini masih status waspada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sesuai peringatan dari BMKG.

"Karena kondisi masih waspada, kami tetap mengimbau masyarakat untuk tetap selalu menjaga keselamatan dan membawa kebutuhan pokok," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar di Tangerang Minggu.

Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, maka bisa menghubungi layanan Emergency Call Center 112 atau hotline BPBD Kota Tangerang di 021-5582144 agar dapat segera ditindaklanjuti.

"Kami sudah siagakan petugas selama 24 jam dengan sistem bergantian. Kita mengutamakan keselamatan dan keamanan masyarakat sesuai instruksi langsung Wali Kota Sachrudin," ujarnya.

Mahdiar menambahkan meski banjir di sejumlah wilayah sudah surut, namun petugas gabungan masih disiagakan di lokasi terdampak untuk membantu warga.

BPBD Kota Tangerang bersama unsur TNI-Polri, OPD terkait, aparat wilayah, serta relawan terus melakukan monitoring lapangan, penyedotan genangan di fasilitas umum, pengerahan personel dan perahu, serta membantu mobilisasi warga di area terdampak.

"Selain itu, posko kesehatan dan dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. Petugas juga membantu distribusi logistik serta mendukung pelayanan tenaga medis di lokasi banjir," kata Mahdiar.

Sementara itu DLH Kota Tangerang menerjunkan personil untuk melakukan pembersihan sampah pascabanjir di kawasan Jalan Villa Mutiara Pluit Kelurahan Periuk.

Kepala Bidang Kebersihan DLH Kota Tangerang, Iwan mengatakan langkah ini diambil guna mengantisipasi munculnya sarang penyakit dan penyumbatan drainase yang dapat memicu banjir susulan.

Fokus pembersihan tidak hanya menyasar area jalan raya, tetapi juga menyisir saluran-saluran air yang tersumbat material hanyutan. Hal ini dilakukan demi meminimalisir risiko penyebaran penyakit khas pascabanjir, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga lainnya. (ant)