• Gaya Hidup

Awas! Lemak Perut Bisa Picu Penyakit Kardiovaskular, Studi Soroti Pola Makan

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 24/01/2026 23:05 WIB
Awas! Lemak Perut Bisa Picu Penyakit Kardiovaskular, Studi Soroti Pola Makan Ilustrasi lemak di perut. (FOTO: SHUTTERSTOCK)

JAKARTA - Lemak perut disebut bisa picu buruknya kesehatan jantung. Sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa penumpukan lemak di area pinggang tidak berdiri sendiri, melainkan memicu rangkaian gangguan metabolik yang bisa berujung pada penyakit kardiovaskular.

Adapun studi yang dipimpin Stefania Scaglione, dokter dari University of Palermo, Italia, menyoroti peran sindrom metabolik, yakni kombinasi lemak perut, gula darah tinggi, tekanan darah meningkat, dan gangguan lemak darah, sebagai penghubung utama berbagai risiko jantung. Menurut Scaglione, meningkatnya prevalensi sindrom metabolik membuat intervensi berbasis pola makan menjadi semakin krusial.

Selama ini, dokter kerap menangani kolesterol, tekanan darah, atau gula darah secara terpisah. Namun, penelitian menunjukkan lingkar pinggang justru menjadi benang merah yang menyatukan berbagai indikator risiko tersebut. Konsensus medis sejak 2009 mencatat bahwa lingkar pinggang mendekati 102 sentimeter pada pria dan 88 sentimeter pada perempuan berkorelasi kuat dengan penyakit jantung, dan di Amerika Serikat sekitar 40 persen orang dewasa sudah masuk kategori ini.

Dalam konteks pencegahan, pola makan Mediterania kembali mencuat sebagai pendekatan yang dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan jantung. Pola ini menekankan konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta minyak zaitun, sambil membatasi daging olahan dan makanan ultra-proses. Manfaatnya tidak instan, tetapi terbukti efektif bila dijalani secara berkelanjutan.

Lemak perut, khususnya lemak viseral yang menyelimuti organ dalam, diketahui aktif secara biologis. Jaringan ini melepaskan sinyal inflamasi berupa sitokin yang dapat mengganggu fungsi pembuluh darah dan mempercepat peradangan kronis. Antioksidan dari minyak zaitun dan aneka sayuran berwarna membantu meredam stres oksidatif yang menjadi pemicu kerusakan sel.

Dampak positif pola makan Mediterania juga terlihat pada perbaikan sensitivitas insulin. Serat dari biji-bijian utuh dan kacang-kacangan memperlambat penyerapan gula, menekan lonjakan glukosa darah, dan mengurangi keinginan makan berlebih. Dalam uji klinis acak, risiko diabetes pada kelompok berisiko tinggi turun hingga sekitar 52 persen setelah menjalani pola ini selama empat tahun, bahkan tanpa pembatasan kalori ketat.

Profil lemak darah pun ikut membaik. Pola makan Mediterania cenderung menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL), sehingga mengurangi penumpukan lemak di dinding arteri. Studi besar di Spanyol juga melaporkan penurunan kejadian kardiovaskular mayor pada peserta yang rutin mengonsumsi minyak zaitun atau kacang-kacangan.

Tekanan darah, yang sering meningkat seiring bertambahnya lemak perut, juga menunjukkan respons positif. Asupan kalium dari buah dan sayur membantu pembuluh darah lebih relaks, sementara lemak tak jenuh mendukung kesehatan endotel, lapisan halus pembuluh darah yang mengatur aliran darah.

Penelitian terbaru turut menyoroti peran mikrobioma usus dalam hubungan antara diet, lemak perut, dan kesehatan jantung. Serat yang difermentasi bakteri usus menghasilkan asam lemak rantai pendek yang membantu mengatur peradangan dan metabolisme. Meski riset mikrobioma masih berkembang, bukti terkuat tetap datang dari pola makan utuh, bukan suplemen instan.

Ke depan, para peneliti menekankan bahwa keberhasilan pola Mediterania sangat bergantung pada konsistensi, akses pangan sehat, dan gaya hidup aktif. Aktivitas fisik rutin membantu mengecilkan lingkar pinggang sekaligus meningkatkan penggunaan gula oleh otot.

“Dalam masyarakat modern yang dimanjakan oleh kenyamanan, kunci umur panjang mungkin justru terletak pada kembali ke gaya hidup sederhana, dengan panduan ilmu kedokteran modern,” tulis Scaglione. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nutrients dan memperkuat pesan bahwa menjaga lingkar pinggang tetap sehat adalah langkah strategis untuk melindungi jantung dalam jangka panjang. (*) Sumber: Earth