• Gaya Hidup

Ilmuwan Temukan Gigi Kuno Bisa Ungkap Pola Hidup Manusia Purba

Agus Mughni Muttaqin | Selasa, 20/01/2026 21:20 WIB
Ilmuwan Temukan Gigi Kuno Bisa Ungkap Pola Hidup Manusia Purba Fosil manusia purba (Foto: Earth)

JAKARTA - Para ilmuwan kini bisa membaca kisah hidup manusia purba lewat gigi yang terkubur ribuan tahun lalu. Gigi tidak hanya merekam makanan yang dikonsumsi, tetapi juga merekan jejak momen stres yang dialami sejak masa kanak-kanak hingga dewasa, sesuatu yang jarang terekam oleh tulang biasa.

Temuan ini berasal dari penelitian gigi manusia yang dikuburkan di Pontecagnano, Italia, dan berusia lebih dari 2.700 tahun. Tim peneliti dari Sapienza University mempelajari gigi-gigi tersebut untuk memahami bagaimana pengalaman awal kehidupan membentuk kondisi seseorang hingga dewasa.

Penelitian yang dipimpin Dr. Roberto Germano ini menganalisis 30 gigi dari 10 individu dewasa yang hidup pada abad ke-7 dan ke-6 sebelum Masehi. Dengan teknik pemotongan tipis dan pencitraan mikroskopis, para ilmuwan membaca “garis waktu biologis” yang tersimpan di enamel gigi.

Enamel gigi terbentuk secara bertahap dan teratur, mirip cincin pada batang pohon. Setiap lapisan merekam usia dalam hitungan hari, sehingga peneliti dapat mengaitkan tanda-tanda stres dengan usia yang sangat spesifik.

“Gigi penduduk Zaman Besi Pontecagnano membuka jendela unik ke dalam kehidupan mereka, dari pertumbuhan masa kecil hingga kebiasaan makan saat dewasa,” ujar Roberto Germano dikutip dari Earth, Selasa (20/1).

Beberapa garis enamel tampak lebih gelap dan dikenal sebagai accentuated lines, yang menandakan tubuh mengalami tekanan saat gigi sedang tumbuh. Stres tersebut bisa berasal dari penyakit, kekurangan gizi, atau tekanan fisiologis lainnya, dan jejaknya menetap seumur hidup karena enamel tidak bisa pulih.

Pola yang muncul menunjukkan dua puncak stres utama pada masa kanak-kanak. Puncak pertama terjadi sekitar usia 12 bulan, sementara lonjakan kedua muncul di sekitar usia 44 bulan, fase yang sering dikaitkan dengan perubahan pola makan dan meningkatnya risiko infeksi.

Selain masa kecil, gigi juga menyimpan cerita kehidupan dewasa melalui kalkulus gigi, yaitu plak yang mengeras. Lapisan ini menjebak partikel makanan dan mikroorganisme, lalu mengawetkannya selama ribuan tahun.

Analisis mikroskopis terhadap kalkulus mengungkap sisa serealia, kacang-kacangan, serat tanaman, hingga spora ragi. Temuan ini menunjukkan pola makan berbasis karbohidrat, konsumsi hasil fermentasi, dan kemungkinan aktivitas seperti pengolahan serat atau pembuatan makanan fermentasi.

Uji kimia tambahan menggunakan analisis isotop karbon dan nitrogen memperkuat temuan tersebut. Data menunjukkan masa menyusui eksklusif berlangsung sekitar tujuh bulan, diikuti proses penyapihan hingga usia sekitar 31 bulan, sejalan dengan pola stres yang terekam pada enamel.

Meski memberikan gambaran detail kehidupan individu, penelitian ini memiliki keterbatasan karena metode yang digunakan bersifat destruktif dan jumlah sampel terbatas. Karena itu, hasilnya lebih menyoroti kisah personal ketimbang gambaran populasi secara luas.

Studi ini menunjukkan bahwa gigi bukan sekadar sisa biologis, melainkan arsip kehidupan yang menyimpan cerita tentang ketahanan, adaptasi, dan rutinitas manusia masa lalu. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One. (*)