Ilustrasi - adab murid kepada guru yang diajarkan dalam Islam (Foto: yadim)
JAKARTA - Islam menekankan bahwa menuntut ilmu tidak hanya dipahami sebagai aktivitas intelektual, tetapi juga sebagai proses pembentukan akhlak dan spiritualitas.
Karena itu, hubungan antara murid dan guru ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Ilmu diyakini tidak akan memberi manfaat dan keberkahan tanpa adab yang benar, terutama adab murid terhadap guru.
Para ulama bahkan menegaskan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu, sebab adab menjadi pintu masuk bagi cahaya pengetahuan.
Al-Qur’an menunjukkan kemuliaan ilmu dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk terus memohon tambahan ilmu, sebagaimana firman-Nya:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)
Oleh karena itu, menghormati guru merupakan konsekuensi logis dari memuliakan ilmu itu sendiri. Seorang murid dituntut menjaga sikap, ucapan, dan perilaku agar tidak melukai kehormatan guru, baik ketika berhadapan langsung maupun saat guru tidak berada di hadapannya.
Sikap tawaddu menjadi adab penting yang harus melekat pada diri murid. Kerendahan hati akan membuka ruang pemahaman dan menjauhkan diri dari kesombongan intelektual.
Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menghormati orang berilmu dalam sabdanya:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang alim.” (HR. Ahmad)
Dalam majelis ilmu, adab tersebut tercermin melalui kesungguhan mendengarkan penjelasan guru, menjaga fokus, serta tidak bersikap meremehkan.
Al-Qur’an memuji orang-orang yang mau mendengarkan dengan baik dan mengambil pelajaran terbaik dari apa yang disampaikan:
فَبَشِّرْ عِبَادِ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.” (QS. Az-Zumar: 17–18)
Adab murid juga tercermin dalam kesediaan mendoakan guru. Doa menjadi bentuk penghargaan yang tulus atas ilmu dan bimbingan yang telah diberikan.
Hubungan murid dan guru dalam Islam tidak terputus oleh jarak maupun waktu, bahkan tetap berlanjut setelah guru wafat. Allah SWT mengajarkan doa bagi orang-orang yang berjasa dalam mendidik:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan katakanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.’” (QS. Al-Isra: 24)