• Gaya Hidup

Studi Terbesar Ungkap Efek Mandi Air Dingin pada Tubuh

Agus Mughni Muttaqin | Minggu, 18/01/2026 22:40 WIB
Studi Terbesar Ungkap Efek Mandi Air Dingin pada Tubuh Ilustrasi mandi. (FOTO: MIRROR CO UK)

JAKARTA - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa terapi air dingin seperti mandi air dingin atau berendam di air es memang menawarkan manfaat kesehatan, meski efeknya tidak selalu bertahan lama dan perlu dilakukan dengan kehati-hatian.

Peneliti dari University of South Australia melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis paling lengkap sejauh ini terhadap terapi air dingin. Dengan menganalisis 11 studi yang melibatkan 3.177 partisipan, tim meneliti dampaknya terhadap stres, kualitas tidur, dan kualitas hidup secara umum.

Hasilnya menunjukkan terapi air dingin dapat menurunkan tingkat stres dalam jangka pendek, terutama hingga sekitar 12 jam setelah paparan. Selain itu, mandi air dingin singkat selama 20 hingga 90 detik dilaporkan memberi sedikit peningkatan kualitas hidup, meski manfaat tersebut cenderung memudar setelah beberapa bulan.

Menariknya, salah satu studi dalam analisis itu menemukan bahwa peserta yang rutin mandi air dingin mengalami penurunan hingga 29 persen hari absen akibat sakit. Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih perlu dikaji lebih lanjut untuk memastikan mekanisme dan konsistensinya pada kelompok yang lebih luas.

Dari sisi tidur, terapi air dingin juga menunjukkan potensi perbaikan, tetapi data yang tersedia masih terbatas dan didominasi partisipan laki-laki. “Kami menemukan beberapa kaitan dengan kualitas tidur yang lebih baik, tetapi bukti tersebut belum cukup kuat untuk digeneralisasi,” ujar peneliti UniSA, Tara Cain.

Secara ilmiah, terapi air dingin melibatkan perendaman tubuh pada suhu sekitar 10–15 derajat Celsius dengan durasi minimal 30 detik. Praktik ini memicu respons stres pada tubuh yang ditandai dengan peningkatan peradangan sementara.

Temuan ini sempat terlihat bertentangan dengan anggapan umum bahwa terapi air dingin menekan peradangan. Namun, peneliti menjelaskan bahwa lonjakan peradangan jangka pendek justru merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh, mirip dengan respons setelah olahraga intens.

Meski demikian, para ahli mengingatkan agar terapi ini tidak dilakukan sembarangan. Individu dengan kondisi kesehatan tertentu disarankan lebih berhati-hati karena respons peradangan awal bisa berdampak negatif. “Penting untuk memahami kondisi tubuh masing-masing sebelum mencoba terapi air dingin,” kata Ben Singh, peneliti dalam studi tersebut.

Secara keseluruhan, kajian ini menempatkan terapi air dingin bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang lebih luas. Para peneliti menekankan perlunya studi jangka panjang dan berkualitas tinggi untuk mengetahui siapa yang paling diuntungkan dan bagaimana metode terbaik menerapkannya.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE dan menjadi pengingat bahwa tren kesehatan populer tetap perlu ditimbang dengan bukti ilmiah. Terapi air dingin mungkin bermanfaat bagi sebagian orang, tetapi efektivitas dan keamanannya sangat bergantung pada konteks dan kondisi individu. (*)

Sumber: Earth