Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah. Foto: gelora/katakini
JAKARTA – Indonesia dinilai sebagai negara yang berpotensi dikuasai oleh negara lain. Penyebnya, selain kondisi geopolitik global yang saat ini tidak menentu, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya mineral.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Seri ke-16, Jumat (16/1/2026).
“Dalam perhitungan geopolitik, Indonesia menjadi salah satu negara yang terancam, dan berpotensi dikuasai negara lain, karena banyak memiliki sumber daya alam antara lain nikel terbesar di dunia sebagai bahan membuat semikonduktor, pengganti bahan bakar,” kata Fahri Hamzah.
Menurut Fahri Hamzah, saat ini sumber daya alam semakin terbatas, sehingga seluruh negara dunia melakukan langkah survival pragmatis untuk bisa bertahan hidup.
"Sekarang ini tren negara-negara dunia melakukan survival pragmatis, yang penting bisa bertahan hidup," kata Fahri Hamzah.
Dengan terbatasnya sumber daya alam, lanjut Fahri Hamzah, menyebabkan persaingan semakin tajam, dan membuat pemimpin-pemimpin dunia bersikap pragmatis.
Fenomena ini terjadi ketika Amerika Serikat (AS) menyerang Venezuela demi menguasai minyak negara tersebut, beberapa waktu lalu.
Sebab, minyak Venezuela selama ini dikuasai China dan Rusia. Karena itu, AS menilai kelangsungan hidup mereka terancam.
"Sehingga diputuskan untuk mengambil-alih Venezuela dan menculik presidennya Nicolas Maduro yang memiliki kedekatan dengan China dan Rusia," ujarnya.
Demi sumber daya alam ini, maka Presiden AS Donald Trump juga berencana akan mengambil-alih Greenland, wilayah Denmark.
Hingga hal ini menimbulkan perpecahan diantara negara Nato dan koalisi dengan AS.
Fahri berharap Indonesia tidak boleh lengah lagi, dan seluruh komponen bangsa perlu mengkonsolidasikan diri untuk menjaga sumber daya alamnya.
"Indonesia pernah menjadi korban atas keserakahan negara lain yang menghalalkan segala cara demi keuntungan ekonomi merampas sumber daya," ujarnya.
"Karena itu, Partai Gelora mengkritik para elite Indonesia yang selalu berkonflik, termasuk berinterpretasi terhadap konstitusi yang tidak ada selesainya " kata Fahri.
Fahri mendukung keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memperbayak pembentukan batalyon tempur di daerah, dalam rangka persiapan perang terhadap ancaman asing.
"Di tengah situasi dunia yang memang tidak baik-baik saja. Di sinilah perlunya negara terkonsolidasi agar menjadi kuat. Saya kira ini diantara PR para elite Indonesia sekarang," katanya.