Bendera Iran terlihat dalam ilustrasi ini, diambil pada 24 April 2024 (Foto: REUTERS)
TEHERAN - Aparat keamanan Iran dilaporkan telah menahan sekitar 3.000 orang yang disebut sebagai "teroris" terkait "kerusuhan" yang terjadi baru-baru ini.
Informasi tersebut disampaikan kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, yang dikutip pada Sabtu (17/1), pernyataan oleh pejabat keamanan setempat.
Menurut laporan itu, para tahanan mencakup tokoh-tokoh utama di balik `kerusuhan,` pihak yang disebut memiliki keterkaitan dengan Israel, individu bersenjata, para `perusuh` yang merusak fasilitas publik, hingga mereka yang diduga terlibat dalam pembunuhan warga Iran.
Tasnim juga menyebutkan bahwa kondisi keamanan di Iran dalam beberapa hari terakhir cenderung terkendali. Meski demikian, aparat masih mewaspadai adanya upaya-upaya "untuk menyulut kembali kerusuhan."
Aksi protes di Iran mulai merebak sejak akhir Desember di sejumlah kota, dipicu oleh melemahnya nilai tukar mata uang rial Iran secara signifikan. Pemerintah setempat mengakui adanya demonstrasi tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk merespons tuntutan ekonomi masyarakat.
Namun, otoritas Iran juga menegaskan larangan terhadap tindakan kekerasan, perusakan, maupun kerusuhan. Dalam perkembangannya, unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai berujung ricuh dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum, masjid, gedung pemerintahan, dan perbankan, terutama pada 8 dan 9 Januari.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas memburuknya situasi keamanan tersebut.