• News

55 Juta Warga Afrika Barat dan Afrika Tengah Terancam Kelaparan Akut

M. Habib Saifullah | Sabtu, 17/01/2026 04:05 WIB
55 Juta Warga Afrika Barat dan Afrika Tengah Terancam Kelaparan Akut Ilustrasi kelaparan (Foto: twitter@WFP_Media)

JAKARTA - Sekitar 55 juta orang di Afrika Barat dan Afrika Tengah diperkirakan akan menghadapi kerawanan pangan akut selama musim paceklik antara Juni hingga Agustus 2026.

Demikian peringatan Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat (16/1/2026), mengutip analisis terbaru ketahanan pangan kawasan tersebut.

Direktur Analisis Ketahanan Pangan dan Gizi Program Pangan Dunia (WFP) Jean Martin Bauer kepada wartawan di Jenewa mengatakan bahwa angka tersebut mencakup penduduk yang masuk dalam kategori krisis, darurat, atau bencana, berdasarkan skala ketahanan pangan regional.

Menurut Bauer, sekitar tiga juta orang diproyeksikan berada dalam kondisi darurat atau dua kali lipat dibandingkan tingkat yang tercatat pada 2020.

Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, sebagian wilayah timur Laut Nigeria, khususnya Negara Bagian Borno, diperkirakan akan mengalami kondisi bencana kerawanan pangan.

“Kelompok ini berada satu langkah lagi dari kelaparan massal,” ujar Bauer. Ia menambahkan bahwa sekitar 15 ribu orang di sejumlah wilayah Borno terdampak, dengan tingkat kematian yang “jauh di atas normal.” Ia menegaskan bahwa “orang-orang benar-benar kelaparan.”

Meski musim hujan terakhir relatif berjalan baik, Bauer menekankan bahwa krisis ini tidak dipicu oleh faktor iklim, melainkan oleh kekerasan dan pemangkasan besar-besaran pendanaan kemanusiaan.

Ia mengatakan WFP telah menghentikan bantuan bagi sekitar 300 ribu anak di Nigeria dan berpotensi memangkas bantuan bagi setengah juta orang di Kamerun akibat keterbatasan sumber daya.Bauer menambahkan sekitar 13 juta anak di seluruh kawasan tersebut berisiko terdampak pada 2026, sehingga program gizi perlu menjadi prioritas utama.

WFP memperkirakan membutuhkan dana sebesar 453 juta dolar AS (sekitar Rp7,6 triliun) dalam enam bulan ke depan untuk mempertahankan bantuan esensial serta mencegah memburuknya konsumsi pangan dan indikator gizi anak.

Sumber: Anadolu