• Oase

Isra Mikraj, Kisah Spiritual Nabi Muhammad SAW Menuju Sidratul Muntaha

M. Habib Saifullah | Jum'at, 16/01/2026 13:55 WIB
Isra Mikraj, Kisah Spiritual Nabi Muhammad SAW Menuju Sidratul Muntaha Ilustrasi Isra Mikraj (FOTO: HO/IST)

JAKARTA - Malam itu, Makkah terdiam. Angin gurun berembus pelan, seolah enggan mengusik luka yang masih basah di hati Nabi Muhammad SAW. Tahun itu adalah tahun kesedihan. Khadijah, pendamping setia yang selalu menguatkan, telah tiada. Abu Thalib, pelindung yang menjaga dakwahnya, pun telah pergi. Kota kelahirannya terasa asing, penuh penolakan dan cemooh.

Di tengah keheningan itulah, Allah memanggil hamba-Nya.

Tanpa disadari manusia lain, tanpa disaksikan mata siapa pun, sebuah perjalanan agung dimulai, perjalanan yang kelak akan dikenang sebagai Isra Mikraj.

Dalam sunyi malam, Rasulullah SAW diperjalankan dengan makhluk bercahaya bernama Buraq. Langkahnya lebih cepat dari cahaya, membawa Nabi melintasi padang pasir, gunung, dan batas-batas yang tak pernah dijangkau manusia. Dalam sekejap, Masjidil Haram tertinggal jauh di belakang.

Tujuan pertama adalah Masjid Al-Aqsa, tanah yang diberkahi, tanah para nabi. Ketika Rasulullah turun dari Buraq, suasana terasa berbeda-hening, sakral, dan penuh cahaya yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Di tempat itu, para nabi telah berkumpul. Adam, Musa, Isa, Ibrahim, semua hadir. Dan malam itu, Nabi Muhammad SAW berdiri sebagai imam. Dalam salat yang sunyi namun agung, langit dan bumi seakan bersatu.

Namun perjalanan belum usai.

Dari Masjid Al-Aqsa, Rasulullah SAW dibawa naik, menembus lapisan demi lapisan langit. Setiap langit memiliki penjaganya, setiap pertemuan membawa pesan.

Nabi Adam menyambut di langit pertama, Nabi Isa dan Yahya di langit berikutnya, hingga Nabi Ibrahim di langit tertinggi.

Setiap langkah semakin mendekatkan Rasulullah kepada rahasia Ilahi yang tak pernah terungkap kepada manusia sebelumnya.

Hingga akhirnya, sampailah ia di Sidratul Muntaha batas terakhir pengetahuan makhluk. Bahkan malaikat Jibril pun berhenti di sana.

Di titik itulah, Nabi Muhammad SAW berdiri sendirian di hadapan Allah SWT.

Bukan emas, bukan kekuasaan, bukan pula kemenangan dunia yang diberikan Allah pada malam itu. Yang dititipkan adalah salat, ibadah yang akan menjadi napas kehidupan umat Islam.

Awalnya lima puluh waktu. Namun atas kasih sayang Allah dan doa Rasul-Nya, kewajiban itu diringankan menjadi lima waktu, dengan pahala yang tak berkurang. Sebuah dialog langit yang kelak akan menjadi penghubung manusia dengan Tuhannya, lima kali sehari.

Salat bukan sekadar kewajiban. Ia adalah hadiah dari langit.

Ketika fajar menyingsing dan Nabi Muhammad SAW menceritakan perjalanan itu kepada penduduk Makkah, tawa dan ejekan pun bermunculan. Bagi mereka, perjalanan ke Yerusalem saja mustahil ditempuh dalam satu malam, apalagi naik ke langit.

Namun Abu Bakar berdiri tegak. Tanpa ragu, ia berkata bahwa jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar. Sejak hari itu, ia dikenal sebagai Ash-Shiddiq, yang membenarkan tanpa keraguan.