Ilustrasi - stres bekerja (Foto: SHUTTERSTOCK)
JAKARTA - Stres kerap dianggap hanya bisa diatasi dengan liburan ke tempat yang jauh dan mahal. Gambaran tentang pantai, pegunungan, atau hotel nyaman sering diasosiasikan sebagai satu-satunya jalan untuk memulihkan energi mental.
Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang memiliki waktu dan biaya untuk melakukan liburan semacam itu.
Faktanya, stres lebih berkaitan dengan cara seseorang merespons tekanan, bukan semata-mata kondisi eksternal. Tumpukan pekerjaan, tuntutan ekonomi, dan dinamika relasi sosial dapat memicu stres meski seseorang sedang berada di rumah. Karena itu, pengelolaan stres yang efektif justru bertumpu pada kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan secara konsisten.
Salah satu langkah awal mengelola stres adalah mengenali batas diri. Banyak orang terjebak dalam tekanan karena merasa harus selalu tersedia dan memenuhi ekspektasi semua pihak.
Belajar mengatakan cukup dan memberi jeda bagi diri sendiri merupakan bentuk perawatan mental yang sering diabaikan, padahal dampaknya sangat besar.
Mengatur napas dan waktu istirahat juga menjadi strategi yang murah namun efektif. Menarik napas secara sadar selama beberapa menit dapat membantu sistem saraf menjadi lebih tenang. Begitu pula dengan tidur yang cukup dan teratur, yang berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi dan kemampuan berpikir jernih.
Aktivitas fisik ringan tidak kalah penting dalam meredakan stres. Jalan kaki, peregangan, atau olahraga singkat di rumah dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan yang menumpuk. Gerakan sederhana ini merangsang produksi hormon yang mendukung perasaan lebih rileks dan positif tanpa memerlukan peralatan khusus.
Selain itu, menjaga koneksi sosial secara sehat juga membantu mengurangi beban mental. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, meski hanya melalui percakapan singkat, dapat memberikan rasa dipahami dan didukung. Interaksi yang tulus sering kali lebih menenangkan dibanding hiburan mahal yang bersifat sementara.
Mengelola stres tanpa liburan mahal juga berarti menata ulang ekspektasi terhadap hidup. Tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus, dan tidak semua hari harus berjalan sempurna. Menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses hidup dapat meringankan tekanan yang selama ini tidak disadari.