• Oase

Kisah Isra Miraj dan Maknanya dalam Sejarah Islam

M. Habib Saifullah | Kamis, 15/01/2026 03:15 WIB
Kisah Isra Miraj dan Maknanya dalam Sejarah Islam Masjid Al-Aqsa, saksi sejarah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW (Foto: Unsplash/Phillipe Collard)

JAKARTA - Isra Miraj menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam yang memiliki kedudukan istimewa dalam akidah umat Muslim.

Isra Miraj terjadi pada periode sulit dalam kehidupan Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW kehilangan dua sosok terdekatnya, yakni istri tercinta Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib.

Tekanan dakwah, penolakan kaum Quraisy, serta penderitaan psikologis menjadi latar belakang terjadinya peristiwa besar ini.

Secara bahasa, Isra berarti perjalanan malam, sementara Miraj berarti naik atau tangga. Isra merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Sementara Miraj adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa menembus lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Isra ayat 1.

Menurut riwayat, dalam perjalanan Isra, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dengan kendaraan bernama Buraq, ditemani Malaikat Jibril.

Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Peristiwa ini dimaknai sebagai simbol kepemimpinan dan kesinambungan risalah kenabian.

Pada tahap Miraj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menembus tujuh lapis langit. Dalam perjalanan tersebut, beliau bertemu dengan para nabi seperti Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim.

Setiap pertemuan mengandung pesan spiritual tentang keimanan, perjuangan, dan keteguhan dalam menjalankan amanah Allah.

Puncak dari peristiwa Miraj adalah ketika Rasulullah SAW menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT. Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak 50 waktu sehari, namun atas pertimbangan dan dialog Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa, jumlahnya diringankan menjadi lima waktu sehari semalam, tanpa mengurangi nilai pahalanya.

Dalam tradisi Islam, Isra Miraj dipahami bukan hanya sebagai mukjizat, tetapi juga sebagai penguatan iman. Peristiwa ini mengajarkan bahwa di balik kesulitan, Allah SWT selalu menyiapkan pertolongan dan kemuliaan.