• Bisnis

Rupiah Berpotensi Menurun Imbas Ancaman Tarif Trump ke Iran

Vaza Diva | Rabu, 14/01/2026 14:30 WIB
Rupiah Berpotensi Menurun Imbas Ancaman Tarif Trump ke Iran Ilustrasi - mata uang Rupiah dan Dollar AS (FOTO: THINKSTOCKS)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Rabu di Jakarta dengan pergerakan positif. Mata uang Garuda tercatat menguat 7 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp16.870 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.877 per dolar AS.

Meski demikian, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah berpotensi terbatas. Ia menyoroti rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara yang masih menjalin perdagangan dengan Iran.

“Pengumuman ini telah meningkatkan ketegangan perdagangan antara AS dan China, terutama karena China merupakan importir utama minyak Iran,” ujar Josua di Jakarta, pada Rabu (14/1) dikutip dari Antara.

Mengacu laporan Anadolu, Trump menyampaikan rencana pemberlakuan tarif sebesar 25 persen bagi seluruh negara yang tetap melakukan transaksi dagang dengan Iran.

Presiden AS itu menegaskan kebijakan tersebut bersifat final dan akan diterapkan dalam waktu dekat, meski detail teknisnya belum diumumkan.

“Hari ini, rupiah diperkirakan akan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS,” kata Josua.

Selain sentimen geopolitik, pasar juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat. Inflasi headline atau Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Desember 2025 tercatat stabil di level 2,7 persen secara tahunan (yoy), sesuai dengan ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti tetap berada di angka 2,6 persen yoy, lebih rendah dari perkiraan sebesar 2,7 persen yoy.

Dari sektor properti, data penjualan rumah baru AS pada Oktober 2025 tercatat sebanyak 737 ribu unit, sedikit turun dari 738 ribu, namun masih melampaui ekspektasi pasar di kisaran 715 ribu unit.

“Ini menunjukkan bahwa permintaan konsumen tetap tangguh,” ujarnya.