Dolar AS dan rial Iran (FOTO: Majid Asgaripour/WANA)
JAKARTA - Nilai tukar mata uang sering menjadi cerminan kondisi ekonomi sebuah negara. Dalam konteks global, istilah mata uang paling lemah biasanya merujuk pada nilai nominal mata uang yang sangat rendah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), sehingga dibutuhkan ribuan bahkan jutaan unit mata uang lokal untuk setara dengan satu dolar.
Saat ini sejumlah mata uang masih berada di posisi terbawah dalam daftar nilai tukar dunia. Pelemahan ini terjadi karena berbagai faktor, mulai dari inflasi tinggi, krisis ekonomi berkepanjangan, instabilitas politik, hingga tekanan sanksi internasional.
Iranian rial masih menempati posisi paling lemah secara nominal. Mata uang Iran ini diperdagangkan di kisaran 1.420.000 rial untuk satu dolar AS.
Tekanan sanksi internasional, inflasi ekstrem, serta ketidakpastian politik membuat nilai rial terus tergerus dan berdampak besar pada daya beli masyarakat.
Di bawahnya, pound Lebanon juga mengalami kejatuhan tajam akibat krisis ekonomi dan perbankan yang belum pulih. Nilai tukarnya berada di kisaran 89.500 hingga 89.800 pound per dolar AS.
Sementara itu, dong Vietnam dikenal sebagai mata uang dengan nilai nominal rendah, yakni sekitar 26.000 hingga 26.200 dong per dolar AS. Meski demikian, lemahnya nilai nominal dong tidak selalu mencerminkan krisis, karena Vietnam justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi serupa juga terlihat pada kip Laos, yang diperdagangkan di kisaran 21.500 hingga 21.700 kip per dolar AS. Nilai tukar yang rendah ini dipengaruhi keterbatasan cadangan devisa dan tingginya ketergantungan impor, yang membuat tekanan terhadap mata uang terus berlanjut.
Dari Asia Tenggara, rupiah Indonesia juga masuk dalam daftar mata uang dengan nilai nominal rendah. Per 14 Januari 2026, rupiah berada di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.880 per dolar AS.
Di kawasan Asia Tengah, som Uzbekistan diperdagangkan di kisaran 12.900 hingga 12.960 som per dolar AS. Pemerintah Uzbekistan masih melakukan reformasi ekonomi untuk memperbaiki stabilitas mata uang, meski hasilnya belum sepenuhnya terlihat di pasar valuta asing.
Afrika juga menyumbang beberapa mata uang lemah dunia. Franc Guinea, misalnya, berada di kisaran 8.600 hingga 8.700 franc per dolar AS. Inflasi, keterbatasan infrastruktur keuangan, dan tantangan ekonomi domestik menjadi faktor utama pelemahan mata uang ini.
Di Amerika Selatan, guarani Paraguay diperdagangkan di kisaran 7.800 hingga 8.000 guarani per dolar AS. Meski secara nominal tergolong lemah, kondisi ekonomi Paraguay relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah negara lain dalam daftar ini.
Selanjutnya, ariary Madagaskar berada pada kisaran 4.400 hingga 4.700 ariary per dolar AS. Tekanan ekonomi, ketergantungan pada sektor tertentu, serta keterbatasan industri domestik turut memengaruhi pergerakan mata uang ini.
Daftar ini ditutup oleh riel Kamboja, yang diperdagangkan di kisaran 4.100 hingga 4.200 riel per dolar AS. Dalam praktiknya, dolar AS banyak digunakan berdampingan dengan riel dalam transaksi sehari-hari, sehingga melemahnya riel secara nominal sudah lama menjadi bagian dari sistem ekonomi negara tersebut.