• News

Menengok Sejarah Persia di Tengah Demo Iran

M. Habib Saifullah | Senin, 12/01/2026 12:05 WIB
Menengok Sejarah Persia di Tengah Demo Iran Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (Foto: Office of the Iranian Leader/AP)

JAKARTA - Iran kembali menjadi sorotan usai gelombang demonstrasi yang merebak di berbagai wilayah negeri para mullah tersebut pada Januari 2026.

Aksi protes yang dimulai oleh pedagang di Grand Bazaar Teheran salah satu kawasan komersial tertua. Awalnya dipicu oleh krisis ekonomi yang tajam, termasuk inflasi meroket dan nilai mata uang rial yang ambruk terhadap dolar AS.

Demonstrasi yang semula fokus pada pertanyaan kesejahteraan masyarakat itu kemudian beralih menjadi tuntutan lebih luas terhadap manajemen pemerintahan dan kritik terbuka terhadap rezim yang berkuasa.

Namun tahukah kamu bahwa Iran memiliki jejak peradaban yang panjang dari Kekaisaran Persia hingga Revolusi Islam Iran? Berikut ulasannya.

Sejarah Persia bermula jauh sebelum peta politik modern. Pada abad ke-6 SM, Kekaisaran Akhemeniyah di bawah Cyrus the Great (Koresh Agung) mempersatukan wilayah besar dari Asia Tengah hingga Mediterania dan dikenal dengan sistem administratifnya yang maju serta toleransi terhadap berbagai budaya dan kepercayaan.

Persia kuno adalah pusat kebudayaan, hukum, dan perdagangan, yang memberi dampak besar pada perkembangan peradaban global. Dari sini pula lahir warisan literatur dan filsafat yang terus dikenang.

Setelah penaklukan oleh Alexander Agung, wilayah ini kemudian dikuasai berbagai dinasti seperti Parthia dan Sassanid, yang masing-masing memperkuat struktur lokal dan mempertahankan identitas Persia sebelum masa kedatangan Islam.

Pada abad ke-7 M, Persia mengalami perubahan dramatis ketika Islam masuk dan sejak itu menjadi bagian integral dari peradaban Islam. Bahasa Persia tetap hidup, dan para pemikir serta cendekiawan Persia memberi kontribusi besar dalam ilmu pengetahuan dan sastra Islam.

Identitas Persia kemudian berpadu dengan struktur politik lokal, namun tetap mempertahankan karakter budaya yang kuat. Pada abad ke-16, Dinasti Safawi menjadikan Syiah Dua Belas sebagai agama negara, sebuah keputusan yang membentuk basis keagamaan Iran hingga hari ini.

Dari titik inilah Persia mulai dikenal sebagai cikal-cikal Iran modern, sebuah negara yang memadukan warisan kuno dengan tradisi Islam yang kuat.

Pada abad ke-20, di tengah pengaruh Barat dan upaya modernisasi, dinasti Pahlavi mengambil alih kekuasaan dan akhirnya mengganti nama negara dari Persia menjadi Iran pada 1935.

Modernisasi yang cepat membuka keretakan dalam masyarakat, kehidupan urban tumbuh pesat di kota-kota, namun banyak elemen tradisional merasa terpinggirkan.

Ketegangan ini akhirnya berpuncak pada Revolusi Islam 1979, yang menggulingkan monarki dan mendirikan struktur pemerintahan baru yang dipimpin ulama.