Ilustrasi tidur saat musim hujan (FOTO: SLEEPFOUNDATION)
JAKARTA - Sudah menjadi pengalaman banyak orang kala hujan turun, perasaan malas bergerak tiba-tiba muncul. Entah itu enggan beranjak dari tempat tidur, malas mengerjakan tugas, atau bahkan cuma ingin terus santai di bawah selimut.
Fenomena ini tidak sekadar lelucon; psikis manusia memang terpengaruh oleh cuaca, terutama saat hujan turun dan sinar matahari tertutup awan mendung.
Perubahan suasana hati dan energi saat hujan turun sebenarnya memiliki dasar ilmiah. Dalam dunia psikologi cuaca, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi atmosfer seperti kurangnya sinar matahari, ritme suara hujan, dan suhu yang lebih dingin dapat memengaruhi hormon dan mood seseorang.
Salah satu faktor yang berkontribusi pada rasa mager saat hujan adalah berkurangnya paparan sinar matahari. Cuaca yang mendung dan hujan menyulitkan tubuh untuk menerima cahaya alami.
Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya cahaya matahari dapat menurunkan produksi serotonin, hormon yang membantu stabilisasi suasana hati dan memberi rasa semangat. Bila serotonin menurun, tubuh cenderung mengalami rasa lesu dan motivasi yang turun.
Selain serotonin, hormon melatonin yang mengatur siklus tidur tubuh juga cenderung meningkat saat suasana gelap. Tingkat melatonin yang tinggi membuat seseorang merasa lebih mengantuk dan kurang berenergi, yang seringkali terasa seperti dorongan "ingin mager" ketika hujan turun.
Fenomena mood yang berubah saat hujan juga diperkaya oleh riset psikologi. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan mental melihat hubungan antara suasana hati dan cuaca, termasuk efek dari perubahan temperatur, kelembapan, dan kondisi langit yang gelap.
Meski individu berbeda-beda dalam reaksi terhadap cuaca, banyak yang melaporkan penurunan semangat atau energi pada hari hujan sebuah kondisi yang kadang disebut sebagai rainy day blues.
Bukan hanya itu, psikolog juga mencatat bahwa hujan kerap membatasi aktivitas sosial dan fisik di luar ruangan. Ketika kesempatan bergerak bebas di luar berkurang, kita cenderung menarik diri ke dalam rumah, yang secara tak langsung memberi sinyal ke otak untuk “lebih santai” dan less active.
Tak semua respons terhadap hujan bersifat negatif. Suara hujan yang ritmis sering disebut sebagai bentuk white noise, yaitu suara dengan pola frekuensi yang stabil dan menenangkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa white noise dapat membantu otak fokus atau bahkan memicu rasa relaksasi. Ini menjelaskan kenapa ada yang merasa ingin tidur atau “ngadem” saat hujan turun.
Selain itu, aroma tanah basah atau petrichor saat hujan juga dikenal memicu reaksi emosi tertentu. Bagi sebagian orang, bau tersebut membawa rasa nostalgia atau ketenangan karena mengaktifkan bagian otak yang mengatur memori dan emosi.
Fenomena mager saat hujan tidak sekadar mitos atau kebetulan. Ilmu psikologi cuaca dan penelitian mood telah mengaitkan kondisi atmosfer dengan respon emosional dan fisiologis tubuh.
Meski demikian, efek hujan terhadap motivasi bukanlah sesuatu yang mutlak untuk semua orang. Ada juga yang justru merasa lebih kreatif, lebih produktif, atau lebih rileks saat hujan turun, tergantung pada preferensi pribadi dan konteks kegiatan masing-masing.
Yang jelas, memahami hubungan antara cuaca dan mood dapat membantu kita menyadari bahwa perasaan mager saat hujan bukan semata soal kemalasan, tetapi juga interaksi kompleks antara lingkungan, tubuh, dan otak.