• Info MPR

HNW Dorong Mahasiswa Perbaiki Demokrasi Indonesia, Jangan Terjebak Apatisme

Agus Mughni Muttaqin | Sabtu, 10/01/2026 21:19 WIB
HNW Dorong Mahasiswa Perbaiki Demokrasi Indonesia, Jangan Terjebak Apatisme Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menerima audiensi BEM PTMA Zona III di Kompleks Parlemen, Jakarta, membahas peran mahasiswa dalam demokrasi Indonesia (Foto: MPR)

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam membangun politik dan demokrasi yang lebih sehat, jangan malah bersikap apatis, apalagi meninggalkan demokrasi.

Hal tersebut disampaikan HNW saat menerima kunjungan Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-`Aisyiyah (PTMA) Zona III. Pertemuan itu membahas sejumlah isu politik, sekaligus mengundang HNW dalam Rapat Koordinasi Wilayah BEM PTMA Zona III pada bulan depan.

Dalam kesempatan tersebut, HNW menyampaikan bahwa di DPR ruang partisipasi publik selalu terbuka dan terdapat Badan Aspirasi Masyarakat, yang bertugas menerima dan menindaklanjuti aspirasi rakyat.

“Mahasiswa dapat memanfaatkan ruang ini untuk menyampaikan gagasan, termasuk terkait revisi undang-undang pemilu dan pilkada. Saya berharap mahasiswa tetap berada di jalur idealisme, menjadi kekuatan moral, serta terus mencerahkan rakyat dan opini publik demi politik yang berkeadilan dan berkeadaban,” ujar HNW, dalam keterangannya, Jumat (9/1).

Dalam kesempatan tersebut, HNW menilai bahwa politik dan demokrasi Indonesia memang penuh paradoks. Tidak selalu ada hubungan lurus antara kebenaran gagasan, konsistensi sikap, dan hasil elektoral. Hal tersebut merupakan realitas yang harus dihadapi bersama.

“Prinsipnya sederhana, nilai yang kami perjuangkan tetap harus diperjuangkan, baik dipilih maupun tidak dipilih. Ketika kami membela rakyat, kami tidak pernah bertanya apakah rakyat tersebut memilih kami atau tidak. Karena partai politik sejatinya adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar alat elektoral,” jelasnya.

HNW menambahkan bahwa demokrasi Indonesia masih menghadapi tantangan besar, seperti mahalnya biaya politik, praktik politik uang, lemahnya penegakan netralitas aparat, serta rendahnya literasi politik masyarakat. Namun demikian, menyalahkan rakyat semata dinilai tidak adil.

“Karena itu, jika ingin membenahi demokrasi, maka pembenahan harus dimulai dari hulunya, yakni sistem kepartaian, rekrutmen politik, penegakan hukum, dan komitmen elite politik itu sendiri. Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam apatisme,” ujarnya.

Menurut HNW, mahasiswa justru harus menjadi sumber optimisme dan pencerahan dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

“Satu obor memang kecil, tetapi ketika obor-obor itu dinyalakan bersama, cahaya akan semakin terang. Alternatif dari demokrasi bukanlah sesuatu yang lebih baik. Tanpa demokrasi, kita berisiko jatuh pada otoritarianisme, tirani, atau ekstremisme,” tuturnya.