Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono (Foto: ANTARA)
JAKARTA - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengajak bangsa Indonesia untuk kembali pada jati diri bangsa. Ajakan itu Wamensos sampaikan saat menghadiri Haul ke-171 Pangeran Diponegoro di Ndalem Tegalrejo, Monumen Diponegoro Sasana Wiratama, Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Wamensos menyampaikan Indonesia adalah bangsa yang kuat, namun tetap perlu menata kembali arah kehidupan berbangsa dan bernegara agar selaras dengan jati diri bangsa.
"Jati diri karakter bangsa yang menyatu dengan alam, peka terhadap penderitaan rakyat, serta setia nguri-uri nilai dan warisan leluhur," ujar Wamensos dalam keterangan resmi dikutip pada Jumat (9/1).
Pada acara yang mengusung tema “Merajut Silaturahmi dalam Warisan Perjuangan”, Wamensos turut mengajak seluruh hadirin mendoakan saudara-saudara di Sumatra yang menghadapi musibah banjir dan longsor agar kehidupan mereka segera pulih dan mampu bangkit kembali.
“Sebagai orang Jawa, kita diajarkan untuk mikul duwur mendem jero, mendoakan para leluhur yang telah mendahului kita, yang telah mendarmabaktikan hidupnya demi kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujar Agus Jabo.
Ia juga menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam retret kabinet pada 6 Januari lalu, bahwa kondisi dunia saat ini tengah menghadapi berbagai pergolakan dan ketidakpastian. Dalam situasi tersebut, persatuan dan nasionalisme menjadi kunci keselamatan bangsa.
“Kita akan selamat jika terus bersatu, mempertahankan semangat nasionalisme, dan bergotong royong melindungi kepentingan nasional. Itulah cara kita menghadapi dunia yang tidak stabil,” tegasnya.
Wamensos menambahkan, pemerintah terus berjuang melalui berbagai program prioritas agar manfaat pembangunan dapat segera dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, mulai dari penguatan kesejahteraan sosial seperti Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis, kemandirian pangan, hingga pembangunan kampung nelayan."Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kebahagiaan lahir dan batin bagi rakyat, agar masyarakat dapat hidup sejahtera," ujar dia.
Menurutnya, cita-cita Indonesia yang berdikari, mandiri, dan berkepribadian kuat merupakan nilai perjuangan yang juga diwariskan oleh Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu, bangsa Indonesia perlu terus merefleksikan sosok-sosok teladan sebagai simbol pemersatu dan penguat karakter bangsa.
“Indonesia hari ini kehilangan banyak tokoh panutan. Pangeran Diponegoro adalah figur yang sangat layak diteladani. Beliau lahir sebagai bangsawan, tetapi keluar dari keraton untuk manunggal (menyatu) dengan Tuhan, alam semesta, leluhur, dan rakyat kecil. Itulah jati diri orang Jawa yang sejati,” ungkapnya.
Ia menegaskan Pangeran Diponegoro bukanlah sosok pencari kekuasaan, melainkan simbol kebijaksanaan dan kepemimpinan yang berpihak pada penderitaan rakyat. Perlawanan yang dipimpinnya mampu mengguncang penjajahan Belanda karena dilandasi keberanian, martabat, dan cinta tanah air.
Ia berharap peringatan haul Pangeran Diponegoro tidak hanya menjadi ritual doa, tetapi juga menjadi pengamalan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Sosial juga menyalurkan santunan kepada 69 anak dari dua panti asuhan, yakni Panti Asuhan Bina Siwi dan Panti Asuhan Sasana Kreatif Mandiri sebagai wujud kepedulian sosial.
Acara haul turut dihadiri oleh Syekh Abu Zaki As Sauri, Penasehat Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) Gusti Yudha beserta jajaran pengurus, perwakilan keluarga besar Pangeran Diponegoro, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dihadiri juga oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, para ulama, jamaah, jajaran Kementerian Sosial, termasuk para Kepala Sentra Baturaden, Solo, dan Magelang serta para tamu undangan lainnya.