Tangkapan layar unggahan Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social yang menampilkan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap dan berada dalam tahanan AS di atas kapal perang USS Iwo Jima. (Foto:Truth Social/realDonaldTrump)
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) secara resmi telah meluncurkan serangan militer berskala besar kepada Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) dini hari waktu setempat.
Dalam serangan besar ke negara tersebut, AS juga melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Istrinya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Presiden Venezuela dituduh melakukan kejahatan perdagangan narkoba serta kerja sama dengan kelompok yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Dikutip dari Anadolu, Nicolas Maduro dijadwalkan hadir di persidangan federal New York pada Senin (5/1/2025) waktu setempat.
Diketahui bahwa hubungan antara AS dan Venezuela mengalami pasang surut. keduanya sempat menjadi mitra yang sangat dekat hingga mengalami pergolakan yang panas.
Serangan AS pada Venezuela kali ini menjadi langkah intervensi langsung AS ng paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan Manuel Noriega.
Dilansir dari CNBC Indonesia, akar ketidakpercayaan dan ketegangan antara AS dan Venezuela telah ada sejak seperempat abad yang lalu, menyusul naiknya mantan Presiden sayap kiri Hugo Chavez ke tampuk kekuasaan pada 26 tahun lalu atau tepatnya pada 1999. Maduro sendiri mengambil alih jabatan presiden setelah kematian Chavez pada 2013.
Sebelum naiknya Presiden sosialis Chavez, Venezuela dan AS sebagian besar mempertahankan hubungan ekonomi yang erat. Perusahaan-perusahaan AS berinvestasi di sektor minyak pada awal abad ke-20. Bahkan pada era 1920-an, AS menjadi pasar terbesar untuk ekspor minyak Venezuela.
Namun, nasionalisasi industri minyak oleh Chavez dan sikap vokal menentang kepentingan imperialis AS di Amerika Latin memperburuk hubungan tersebut.
Pada tahun 2007, Chavez menyingkirkan raksasa minyak AS ExxonMobil dan ConocoPhillips sebagai bagian dari upayanya untuk membuat perusahaan minyak negara memperoleh saham mayoritas di semua proyek minyak baru. Namun, Chevron, perusahaan minyak besar AS lainnya, tetap beroperasi.
Hugo Chavez sendiri menjadi pemimpin Venezuela mengusung Revolusi Bolivarian. Langkah-langkah awalnya untuk menulis ulang konstitusi dan kemudian menasionalisasi sektor minyak membuat Venezuela dan AS berada di jalur konflik.
Hubungan AS-Venezuela memburuk seiring Chavez memperkuat hubungan dengan Rusia, China, dan Iran.
Venezuela mengusir LSM dan diplomat yang didukung AS, dan menuduh Washington melakukan upaya destabilisasi. AS mengkritik Venezuela atas "otoritarianisme" dan pembatasan terhadap media.
Di dalam negeri, pemerintahan Chavez memperluas program-program sosial yang didanai oleh harga minyak yang tinggi, tetapi salah urus ekonomi dan korupsi mulai merusak pertumbuhan.
Setelah kematian Chavez, Maduro yang merupakan wakilnya yang telah lama menjabat memenangkan kursi kepresidenan dengan selisih suara yang tipis dalam pemilihan pada 2013.
Maduro mewarisi ekonomi yang sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan berat akibat bertahun-tahun salah urus, korupsi, dan ketergantungan berlebihan pada minyak.
Keruntuhan harga minyak global pada tahun 2014 kemudian menjerumuskan Venezuela ke dalam krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan yang dahsyat-salah satu yang terburuk dalam sejarah modern kawasan ini di luar perang.