• News

Pengamat: Doktrin Amerika, Venezuela Wilayah Haram Dimasuki Negara Lain

Aliyudin Sofyan | Minggu, 04/01/2026 20:07 WIB
Pengamat: Doktrin Amerika, Venezuela Wilayah Haram Dimasuki Negara Lain Pengamat Geopolitik Global Teuku Zulkifli Usman. Foto: gelora/katakini

JAKARTA – Penyerangan kepada Venezuela dan sekaligus menangkap presidennya, Nicolas Maduro, jika melihat dari kacamata geopolitik, memang seharusnya dia lakukan sebelum terlambat. Dalam doktrin Amerika Serikat (AS), Venezuela adalah wilayah yang haram dimasuki negara lain, termasuk oleh China dan Rusia.

“Apalagi hanya Venezuela yang benar-benar keras menentang AS, dan berani membangun hubungan strategis dengan musuh AS. Rusia, China, Korut, dan Iran, ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi AS,” kata Pengamat Geopolitik Global Teuku Zulkifli Hasan, Minggu (4/1/2026).

Pamer otot ala Trump kali ini di Venezuela, secara geopolitik juga untuk menutup malu karena kalah melawan Putin di Ukraina, dan belum berhasil dalam upaya keras mereka menggulingkan pemerintahan Iran sampai saat ini.

Menurut Teuku Zulkifli, Langkah Trump sama dengan 35 tahun lalu, juga di tanggal yang sama 3 Januari 1990, AS menangkap Presiden Panama Manuel Noriega dengan tuduhan Narkotika. Tuduhan serupa dialamatkan kepada Nicolas Maduro.

Langkah penangkapan Maduro dipilih AS karena secara kalkulasi akan lebih aman ketimbang melakukan invasi skala penuh seperti yang dilakukan kepada Irak. Invasi militer beresiko membangkitkan perlawanan rakyat dan merusak fokus AS yang hanya ingin menyingkirkan Maduro.

“Kondisi geopolitik saat ini, tidak memungkinkan sekutu Venezuela seperti Rusia, China, atau Iran untuk membantu. Semua sedang sibuk dengan urusan internal sendiri masing masing,” katanya.

Selain itu, lanjut Teuku Zulkifli, invasi ke Venezuela  memberi sinyal kepada China dan Rusia bahwa AS masih digdaya. Sekaligus mengirim pesan ke Iran, bahwa setelah Venezuela, Iran adalah the next target.

“Melengserkan Maduro juga merupakan sinyal untuk China dan Rusia, Muscle Flexing Trump di depan Vladimir Putin dan Xi Jinping,” kata Teuku Zulkifli.

Menurutnya, AS nekat melakukan serangan dan melengserkan Maduro, lebih kepada arah kebijakan baru AS saat ini yang fokus membangun aliansi baru (Re-alignment) untuk menjawab tantangan geopolitik dan tantangan kebijakan luar negeri AS ke depannya.

Menata ulang aliansi global AS adalah rencana strategis AS mengingat dunia saat ini yang semakin menguat ke arah sistem multipolar. “Venezuela dan semua negara sejenisnya akan terus menjadi terget Trump ke depan, bahkan akan jadi target semua presiden AS setelah Trump,” tuturnya.

“AS akan mengambil alih Venezuela setelah ini seperti mereka mengambil Irak pasca Saddam Hussein. Nanti akan ada pemerintahan transisi dan AS akan mengendalikan penuh politik Venezuela, sampai pemimpin boneka baru dilantik,” katanya.

“Minyak, Gas, dan seluruh hasil bumi Venezuela akan dikuasai AS tanpa basa basi, karena memang ini tujuan utama AS melakukan serangan dan melengserkan Maduro,” imbuh Teuku Zulkifli.

Penangkapan Maduro juga untuk memutus mata rantai komunikasi dengan dunia, sehingga bisa dikatakan, rakyat Venezuela tidak punya kemampuan melawan AS jika melakukan pendudukan.

 

Diplomasi Indonesia

Menurut Teuku Zulkifli, serangan Amerika Serikat ke Venezuela menuntut ecerdasan diplomasi luar negeri Indonesia. Indonesia mau tidak mau harus ikut ke mana arah angin, terus menjaga kesinambungan antara AS dan dukungan terhadap hukum internasional dalam mendukung kedaulatan Venezuela.

Selain itu, Indonesia harus terus berupaya agar mandiri secara energi dan tidak bergantung kepada salah satu pun, termasuk kepada negara besar.

“Kemampuan diplomasi Indonesia perlu terus ditingkatkan, mengingat kondisi konflik global saat ini semakin membutuhkan inovasi dan kecerdasan diplomasi dengan platform kebijakan luar negeri yang lebih jelas,” katanya.

“Yang paling penting, SDM diplomat kita perlu naik kelas, Menlunya perlu dikoreksi karena terlalu vakum dan pasif,” pungkas Teuku Zulkifli.