• Oase

Ini Bedanya Orang Mukmin dan Kafir dalam Islam

Vaza Diva | Sabtu, 03/01/2026 16:16 WIB
Ini Bedanya Orang Mukmin dan Kafir dalam Islam Ilustrasi - ini perbedaan orang kafir dan mukmin (Foto: Unsplash/Imad Alassiry)

JAKARTA - Dalam pandangan para ulama, di antara ciri paling jelas dari seorang mukmin sejati adalah kemampuannya menyatukan dua hal sekaligus, yaitu berbuat baik dengan sungguh-sungguh, namun tetap merasa takut apakah amal itu diterima atau tidak.

Inilah yang sering ditekankan oleh Hasan Al-Bashri rahimahullah. Rasa takut itu bukan ketakutan yang membuat putus asa, melainkan ketundukan, kehati-hatian, dan rasa hormat kepada Allah.

Allah menggambarkan kondisi hati seperti ini dalam Al-Qur`an:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka takut, karena mereka yakin bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun banyak beramal, seorang mukmin tidak pernah merasa aman. Ia selalu khawatir akan hisab dan berharap agar amalnya diterima.

Rasa takut seperti ini justru melahirkan kesungguhan, keistiqamahan, dan menjauhkan seseorang dari dosa. Rasulullah SAW menjelaskan:

«الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ»
“Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa rasa takut kepada Allah mendorong seorang mukmin untuk selalu mengevaluasi dirinya, memperbaiki kekurangan, dan tidak merasa puas dengan amal yang ada.

Sebaliknya, Hasan Al-Bashri rahimahullah menyebut bahwa orang kafir atau orang yang lalai justru menggabungkan dosa dengan rasa aman. Mereka berbuat maksiat seolah tidak ada konsekuensi. Padahal Allah sudah memperingatkan:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا القَوْمُ الخَاسِرُونَ
“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘rāf: 99)

Rasa aman yang menipu inilah yang membuat seseorang terus tenggelam dalam dosa tanpa penyesalan.

Perbedaan mendasar antara mukmin dan kafir terletak pada hati. Seorang mukmin hidup di antara rasa takut dan rasa harap, sehingga amalnya selalu terjaga. Sedangkan orang yang lalai merasa nyaman dalam kemaksiatan hingga lupa kehidupan akhirat.

Rasulullah SAW mengingatkan:

«لَوْ يَعْلَمُ المُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ العُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ…»
“Seandainya seorang mukmin mengetahui (dahsyatnya) azab yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang berani berharap masuk surga hanya karena amalnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan, rasa takut kepada Allah adalah tanda hati yang hidup, sadar akan akhirat, dan selalu ingin mendekat kepada-Nya.