• Oase

Kisah Lahirnya Ali bin Abi Thalib pada 13 Rajab

M. Habib Saifullah | Sabtu, 03/01/2026 02:00 WIB
Kisah Lahirnya Ali bin Abi Thalib pada 13 Rajab Ilustrasi Ali bin Abi Thalib saat sedang salat (Foto: Yousef Abdinejad via Wikipedia)

JAKARTA - Malam itu, Mekah sunyi dalam caranya sendiri. Angin gurun berembus pelan, membawa butiran pasir yang berbisik di sudut-sudut kota. Di tengah gelap dan bintang yang menggantung, Ka’bah berdiri kokoh, tua, tenang, dan saksi bagi begitu banyak kisah yang lahir dan pergi.

Seorang perempuan berjalan perlahan mendekat. Namanya Fatimah binti Asad. Wajahnya teduh, namun langkahnya tampak berat. Rasa sakit datang berulang, tanda bayi yang dikandungnya akan segera lahir. Di tengah rasa nyeri itu, ia berhenti di hadapan Ka’bah tempat yang sejak lama dimuliakan.

Dengan suara lirih, ia memanjatkan doa.
Bahunya bergetar.
Matanya basah.

“Ya Tuhan,” hatinya berucap, “ringankanlah persalinan ini.”

Tiba-tiba, sesuatu yang tak biasa terjadi. Dikisahkan dalam riwayat-riwayat yang sering diceritakan umat, dinding Ka’bah seolah retak — membuka celah yang cukup bagi Fatimah untuk masuk. Orang-orang yang melihatnya terkejut, tetapi tidak berani mendekat. Mereka menyaksikan, namun tak mampu menjelaskan.

Pintu itu menutup kembali.

Dan selama tiga hari, Fatimah berada di dalam.

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di balik dinding batu itu, kecuali lantunan doa dan ketenangan yang bahkan tak disangka. Hingga akhirnya, dinding itu terbuka lagi, dan Fatimah keluar sambil mendekap bayi yang baru lahir. Wajahnya bersih, matanya jernih.

Bayi itu diberi nama Ali.

Sepupu Nabi Muhammad SAW.
Kelak, menantunya.
Dan salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam.

Sejak kecil, Ali dibesarkan di rumah Nabi. Ia tumbuh di tengah kasih sayang, kejujuran, dan teladan yang membuatnya berbeda dari anak-anak lain. Di rumah itulah ia belajar tentang kesederhanaan, tentang berani berkata benar, dan tentang makna setia.

Mekah semakin ramai, tetapi kehidupan Ali seperti mengalir tenang. Ia tumbuh tanpa tergesa. Matanya tajam, pikirannya dalam, hatinya teguh. Saat wahyu turun kepada Nabi, Ali masih remaja, namun keberaniannya menerima Islam lebih dulu menjadi salah satu tanda kedewasaannya.

Orang-orang kemudian akan mengenalnya sebagai sosok yang berani di medan perang, lembut dalam ibadah, dan sederhana dalam hidup. Namun semuanya bermula dari satu malam sunyi di hadapan Ka’bah malam ketika dunia seolah menyiapkan seseorang yang kelak membawa peran besar dalam perjalanan umat.