Logo Liga Primer Inggris dan logo klub-klub peserta Liga Inggris (foto: Visionhaus)
LONDON - Liga Inggris tidak hanya dikenal karena persaingan ketat, tetapi juga karena momen-momen dramatis yang muncul tanpa diduga.
Gol di menit akhir, comeback tak masuk akal, hingga adu gengsi penuh emosi—semuanya menjadikan kompetisi ini selalu sulit ditebak dan layak dikenang.
Sejumlah pertandingan tercatat sebagai “klasik”. Bukan sekadar soal skor, melainkan cerita, tensi, dan dampaknya bagi sejarah sepak bola.
Laga penentuan gelar. City tertinggal hingga menit akhir, sebelum Sergio Aguero mencetak gol penentu di injury time. Bukan hanya kemenangan 3–2, tetapi cara mereka mengunci gelar yang membuat momen ini diingat selamanya.
Pertandingan yang penuh adu serangan. Liverpool menang 4–3 dalam laga yang berayun dari awal hingga akhir. Tempo cepat dan drama gol menjadikannya salah satu laga terbaik era Premier League.
Derby London Utara yang sarat gengsi. Hasil 2–2 membuat Arsenal memastikan gelar juara—di kandang rival. Momen yang makin menguatkan status “The Invincibles”.
Pertandingan keras, penuh tensi, dan berujung kontroversi. Lebih dari sekadar skor 0–0, laga ini memicu rivalitas intens antara dua kekuatan besar Liga Inggris.
Spurs butuh menang untuk menjaga peluang juara. Namun emosi memuncak, kartu melayang, dan laga berakhir 2–2. Hasil itu mengunci gelar untuk Leicester City—sekaligus menciptakan salah satu duel paling panas.
Pertemuan dua kandidat kuat juara dalam duel penuh kualitas. Gol-gol krusial dan tensi tinggi menunjukkan bagaimana tipisnya jarak antara menang dan kehilangan poin di Liga Inggris.
Pertarungan antara dua tim dengan gaya bermain modern. Liverpool menang 4–3, memperlihatkan kecepatan, pressing, dan kualitas menyerang yang membuat penonton sulit berkedip.
Everton sempat unggul, tetapi United membalikkan keadaan menjadi 4–2. Comeback ini sering disebut sebagai salah satu penentu laju United menuju gelar musim tersebut.