• Gaya Hidup

6 Novel Lawas Indonesia untuk Temani Libur Tahun Baru 2026

M. Habib Saifullah | Kamis, 01/01/2026 06:05 WIB
6 Novel Lawas Indonesia untuk Temani Libur Tahun Baru 2026 Ilustrasi membaca buku (FOTO: UNSPLASH)

JAKARTA - Libur Tahun Baru sering kali menjadi momen paling tepat untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Di sela waktu istirahat, segelas minuman hangat dan sebuah buku bisa menghadirkan ketenangan yang tidak ditemukan di mana-mana.

Apalagi, ketika buku itu mengajak kita kembali ke karya-karya sastra Indonesia yang pernah mewarnai zaman.

Novel-novel lawas tidak hanya menyimpan cerita, tetapi juga jejak pemikiran, budaya, dan pergulatan hidup manusia Indonesia di masa lalu.

Membacanya seperti berjalan mundur, namun tetap menemukan relevansi dengan kehidupan hari ini. Berikut enam rekomendasi novel lawas Indonesia yang layak menemani libur Tahun Baru 2026.

1. Siti Nurbaya — Marah Rusli

Novel ini membawa kita ke dunia percintaan, tradisi, dan benturan nilai. Kisah Siti Nurbaya dan Samsulbahri menyingkap tekanan adat serta kuatnya kuasa orang tua pada masanya. Meski ditulis awal abad ke-20, pertanyaan tentang kebebasan memilih hidup masih terasa sangat dekat.

2. Layar Terkembang — Sutan Takdir Alisjahbana

Kisah Tuti dan Maria mengajak pembaca melihat semangat emansipasi perempuan dalam balutan narasi lembut. Di balik jalan cerita, tersimpan gagasan tentang kemajuan, pendidikan, dan cara pandang modern yang kala itu masih dianggap berani. Bacaan ini cocok untuk merenungi arah langkah di tahun yang baru.

3. Belenggu — Armijn Pane

Novel ini menyelami konflik batin, cinta, dan identitas. Lewat tokoh Dokter Sukartono, kita diajak masuk pada pergulatan perasaan antara idealisme dan kenyataan. Bahasa yang puitis sekaligus tajam membuatnya tetap relevan bagi pembaca masa kini.

4. Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer

Kisah Minke membuka pintu pada periode kolonial dengan sudut pandang yang humanis. Di balik romansa dan politik, pembaca menemukan keberanian bertanya tentang keadilan dan kemerdekaan. Membacanya seperti menelusuri sejarah, namun tetap terasa hidup.

5. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck — Hamka

Novel ini menyajikan kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang sarat nilai moral, kehormatan, dan takdir. Hamka menulis dengan bahasa yang jernih sekaligus menyentuh. Setiap halaman mengajarkan tentang ketabahan menghadapi kehilangan.

6. Atheis — Achdiat K. Mihardja

Melalui tokoh Hasan, novel ini menampilkan pencarian makna hidup, pergolakan iman, dan pertemuan dengan pemikiran modern. Pertanyaan-pertanyaan besar yang muncul di dalamnya, membuat pembaca merenung — tepat untuk menemani malam yang tenang.